Dahulu di kota Kufah tinggallah seorang pemuda tampan rupawan yang tekun dan rajin beribadat, dan dia termasuk salah seorang ahli zuhud. Suatu hari pemuda itu singgah di kalangan kaum An-nakha’ dan di sana dia bertemu dengan seorang gadis yang cantik. Sejak melihatnya pertama kali, dia pun jatuh hati dan tergila-gila oleh kecantikannya. Demikian juga si gadis yang merasakan hal serupa semenjak melihat pemuda itu. Si Pemuda lalu mengutus seseorang untuk meminangnya, tetapi ternyata gadis tersebut telah dipertunangkan dengan putera bapa saudaranya.
Mendengar keterangan ayah si gadis itu, mereka berdua menahan beban cinta yang sangat berat. Si gadis tadi kemudian mengutus seorang hambanya untuk menyampaikan sepucuk surat kepada pemuda tambatan hatinya: “Aku tahu engkau sangat mencintaiku, dan kerananya, betapa besar penderitaanku terhadap dirimu sekalipun cintaku tetap untukmu. Seandainya engkau berkenan, aku akan datang berkunjung ke rumahmu atau aku akan memberikan kemudahan kepadamu bila engkau mahu datang ke rumahku.”
Setelah membaca isi surat tersebut, si pemuda kacak itu pun berkata kepada utusan wanita pujaan hatinya, “Kedua tawaran itu tidak ada satu pun yang kupilih! Sesungguhnya cinta aku pada Allah melebihi cinta aku kepada kedua ibu bapaku! bahkan aku takut akan seksaan hari yang besar bila aku sampai derhaka kepada Tuhanku. Aku juga takut akan neraka yang api dan jilatannya tidak pernah surut dan padam.”
Pulanglah utusan kekasihnya itu dan dia pun menyampaikan segala yang disampaikan oleh pemuda itu. Si gadis lalu berkata, ‘Selamanya aku belum pernah menemui seorang lelaki yang teramat mencintai Allah, yang zuhud dan selalu takut kepada Allah SWT seperti dia. Demi Allah, tidak seorang pun yang layak mendapatkan gelaran kemuliaan kecuali dia, sedangkan kebanyakan lelaki adalah munafik (hipokrit).”
Setelah berkata demikian, gadis itu melepas segala urusan duniawinya serta membuang jauh-jauh segala sesuatu yang berkaitan dengan dunia. Dia pun memakai pakaian dari tenunan kasar dan sejak itu dia tekun beribadat, sementara hatinya merana, badannya juga kurus oleh beban cintanya yang besar kepada pemuda yang dicintainya. Dan kerinduannya yang mendalam menyelimuti sepanjang hidupnya hingga akhir hayatnya.
Setelah gadis itu meninggal dunia, sang pemuda sering pula berziarah ke makamnya. Pada suatu hari, Pemuda itu bermimpi seakan-akan melihat kekasihnya dalam keadaan yang sangat menyenangkan. Pemuda itu pun bertanya, “Bagaimana keadaanmu dan apa yang kau dapatkan setelah berpisah denganku?”
Gadis kekasihnya itu menjawab dengan menyenandungkan untaian syair:
Kasih...
Cinta yang terindah adalah mencintaimu,
Sebuah cinta yang membawa kepada kebajikan.
Cinta yang indah hingga angin syurga berasa malu
Burung syurga menjauh
Dan malaikat menutup pintu.
Mendengar penuturan kekasihnya itu, pemuda tersebut lalu bertanya kepadanya, “Di mana engkau berada?”
Kekasihnya menjawab dengan menuntunkan syair:
Aku berada dalam kenikmatan
Dan kehidupan yang tiada mungkin berakhir
Berada dalam syurga abadi yang dijaga oleh para malaikat
Yang tidak mungkin binasa
Yang akan menunggu ketibaanmu, wahai kekasih
Pemuda itu kembali berkata kepada kekasihnya, “Di sana aku mohon agar engkau selalu mengingatiku dan sebaliknya aku pun tidak dapat melupakanmu!”
“Dan demi Allah, aku juga tidak akan melupakan dirimu. Sungguh, aku telah memohon untukmu kepada Tuhanku juga Tuhanmu dengan kesungguhan hati, sehingga Allah berkenan memberikan pertolongan kepadaku!” jawab gadis kekasihnya itu.
Pemuda itu kembali berkata kepadanya, “Bila aku dapat melihatmu kembali?”
“Tak lama lagi engkau akan datang menyusulku kemari, “jawab kekasihnya.
Tujuh hari sejak pemuda itu bermimpi bertemu dengan kekasihnya, ia meninggal dunia. Semoga Allah sentiasa mencurahkan kasih saying-Nya kepada mereka berdua dan mempertemukannya kembali di syurga. Amiin...
Sunday, May 2, 2010
Wednesday, April 28, 2010
Kisah Zulaiha
Berat sungguh malam yang panas itu dirasakan oleh
Ra'il, wanita cantik yang biasa dipanggil dengan nama
Zulaiha. Ia senantiasa
mempercantik paras, menghias diri, dan memakai
wangi-wangian. Kemudian berdiri, pagi dan petang, di
beranda istananya di atas
Sungai Nil, dalam kegelisahan yang tak jelas
penyebabnya.
Angin sepoi bertiup tenang dan halus, seakan enggan
mengusik ranting-ranting pohon bunga yang mengelilingi
beranda istana
itu, Zulaiha memandangi sungai dan airnya yang tenang,
dan sesekali wajahnya menoleh ke atas, melihat
bintang-bintang yang
bertaburan di langit nan tinggi, mengelilingi bulan
yang sebahagian sinarnya terhalang oleh awan.
Sesaat kemudian, seorang pelayan menghampiri dengan
segelas sari buah dingin untuknya, tetapi sang puteri
menolak dan malah
memerintahkan pelayan itu untuk kembali. Nafasnya
semakin menyesakkan, serasa hampir-hampir mencekik
lehernya. Dia sendiri tidak
tahu apa yang digelisahkannya. Kecantikan? Bukan! Dia
wanita tercantik di seluruh Mesir. Anak? Mungkin itu
benar, sebab sampai
saat ini ia belum dikurniai seorang anak pun.
Sebenarnya ia dapat saja mengambil anak angkat yang
disukainya, sebab ia orang terkaya di negeri itu. Tapi
naluri keibuannya
ternyata menentang niatnya. Dia ingin mengandung dan
melahirkan puteranya sendiri, sebagaimana wanita-wanita
lain. Tapi suratan
takdir menghendaki lain, suaminya tidak kuasa mengubah
impiannya menjadi kenyataan.
Berkecamuklah semua fikiran itu di kepalanya. Ia
terlena dalam lamunannya, sampai suara halus suaminya
tiba-tiba mengejutkan
hatinya.
"Ra'il, isteriku yang cantik, bergembiralah!" Kata
suaminya sambil menunjukkan sesuatu.
Zulaiha menoleh kepada suaminya, dan betapa terkejut
ketika ia lihat suaminya datang bersama seorang anak
kecil.
"Siapa namamu?" tanya Zulaiha. Dengan suara yang
hampir-hampir tidak terdengar, anak itu menjawab,
"Yusuf".
Al-Aziz, suami Zulaiha, kemudian mengikutinya dari
belakang serta berkata, "Telah kubeli ia dari kafilah
yang didapati disebuah
telaga di padang pasir. Berikanlah kepadanya tempat
(dan layanan) yang baik, boleh jadi ia bermanfaat bagi
kita, atau kita pungut ia
sebagai anak".
Isteri al-Aziz tidak mengetahui takdir apa yang bakal
terjadi antara dia dan anak itu di hari-hari yang akan
datang. Yang jelas ia
merasa senang atas kedatangan anak itu, dan hilanglah
kesedihan yang selama ini menghimpit dadanya.
Hari-hari berlalu. Yusuf semakin besar dan menjadi
dewasa. Wajahnya tampak semakin tampan. Isteri Aziz
tidak mengerti kebahagiaan
apa yang meresap di hatinya setiap kali ia memandang
Yusuf, dan kesedihan yang menghantuinya ketika Yusuf
hilang dari
pandangannya.
Setiap kali malam tiba, dan Yusuf pergi ke kamar
tidurnya, Zulaiha merasa ada sesuatu yang mengusik
lubuk jiwanya, sehingga
kadang kala ia bangun meninggalkan suaminya yang sedang
tidur, kemudian pergi ke pintu kamar Yusuf. Zulaiha
berdiri di pintu
kamar Yusuf beberapa saat. Dalam hatinya timbul
keraguan: apakah sebaiknya ia masuk menemui Yusuf
seperti yang diinginkannya,
ataukah ia kembali ke tempatnya sendiri di samping
suaminya.
Fikiran seperti itu selalu mengganggu hatinya
semalaman, sampai cahaya matahari pagi terlihat masuk
melalui jendela-jendela
kamarnya. Jika sudah demikian, ia kembali ke kamar
suaminya.
Setiap kali pandangannya bertemu dengan pandangan
Yusuf, ia merasakan keinginan yang kuat untuk selalu
berada dekat pemuda
itu, dan tak ingin rasanya berpisah untuk
selama-lamanya. Namun, hati kecilnya berkata bahawa
Yusuf tidak memendam perasaan
yang sama seperti perasaannya. Pertanyaan yang selalu
mengusik kalbunya adalah: Apakah Yusuf mencintainya
sebagaimana ia
mencintai Yusuf? Apakah Yusuf memendam perasaan seperti
yang dipendamnya? Meskipun hati kecilnya berkata bahawa
Yusuf tidak
menampakkan sikap seperti itu, ia tidak mahu mendengar
jawapan itu.
Pada suatu petang, isteri Aziz merasa tidak kuasa lagi
hanya berdiri di ambang cinta yang disimpannya kepada
Yusuf. Ia kemudian
berdiri dimuka cermin, mengagumi kecantikan parasnya,
seraya berkata kepada dirinya sendiri, "Adakah, di
seluruh Mesir ini, wanita
yang kecantikannya melebihi kecantikanku, sehingga
Yusuf menghindar dariku? Tidak boleh tidak, wahai,
Yusuf, hari ini aku akan
menjumpaimu dengan segala macam bujukan dan rayuan,
sampai engkau tunduk kepadaku".
Kemudian ia membuka lemari, dan matanya mengamati
setumpuk pakaian di dalamnya. Dipilihnya salah satu
gaunnya yang paling
indah, berwarna merah dengan model yang membangkitkan
ghairah laki-laki. Manakala gaun itu dikenakan, maka
sebahagian
auratnya yang seharusnya tersembunyi akan tampak.
Itulah yang justeru dikehendakinya. Kemudian ia memakai
wangi wangian di
sekujur tubuhnya, yang menyebabkan seorang lelaki akan
berghairah kerana baunya.
Setelah itu, ia atur rambutnya seindah-indahnya di
malam yang sunyi itu. Setelah menyelesaikan dan
menyempurnakan
dandanannya, Zulaiha mengamati sekelilingnya, hingga ia
benar-benar yakin bahawa tidak ada seorang pun
pelayannya yang masih
menunggunya di situ; semuanya sudah lelap di kamarnya
masing-masing di kegelapan malam itu. Ia pun tahu
bahawa suaminya
sedang memenuhi panggilan seorang hakim Mesir dan sibuk
dengan urusan-urusannya, sehingga tidak mungkin ia akan
kembali
sebelum fajar pagi tiba.
Setelah segalanya beres, pergilah ia menuju kamar
Yusuf. Didapatinya pintu kamar itu tertutup dan
lampunya sudah dimatikan.
Dengan perlahan ia mengetuk; satu kali, dua kali ...
dan tiga kali. Tak lama kemudian, Yusuf pun bangun
menyalakan lampu dan
membukakan pintu. Alangkah terkejutnya Yusuf ketika ia
melihat isteri al-Aziz sudah berada di hadapannya. Tapi
ia tidak berkata
apa-apa kecuali hanya diam menunduk.
Tiba-tiba Zulaiha masuk ke dalam, mendekatinya dengan
ramah, dan memegang tangannya sambil menutup pintu
kamar. Zulaiha
merasakan kegelisahan, ketakutan, dan tak boleh
menjawab pandangan kedua mata Yusuf. Ia lalu berpaling
ke arah Yusuf, sedangkan
Yusuf selalu berusaha menjauh darinya.
Isteri al-Aziz kemudian berkata, "Apakah maksud semua
ini, hai, Yusuf? Janganlah engkau menjauh dariku,
sehingga aku binasa
kerana rindu kepadamu".
Yusuf diam tanpa jawapan.
Isteri al-Aziz mendekatinya lagi seraya berkata,
"Aduhai, Yusuf, betapa indahnya rambutmu!"
Yusuf menjawab, "Inilah sesuatu yang pertama kali akan
berhamburan dari tubuhku setelah aku mati".
"Aduhai, Yusuf, betapa indahnya kedua matamu!" Bujuk
isteri al-Aziz lagi.
"Keduanya ini adalah benda yang pertama kali akan lepas
dari kepalaku dan akan mengalir di muka bumi!"
Isteri al-Aziz berkata lagi, "Betapa tampannya wajahmu,
hai, Yusuf".
"Tanah kelak akan melumatnya," Jawab Yusuf.
Kemudian Zulaiha berkata kepadanya, "Telah terbuka
tubuhku kerana ketampanan wajahmu".
"Syaitan menolongmu untuk berbuat hal itu!" Kata
Yusuf.
"Yusuf! Bagaimanapun aku harus mendapatkan apa yang
selama ini kudambakan, dan kini aku datang kerananya".
Kata Zulaiha.
Yusuf menjawab: "Ke manakah aku akan lari dari murka
Allah jika aku menderhakaiNya?"
Sedarlah isteri al-Aziz bahawa Yusuf benar-benar tidak
mahu memenuhi apa yang ia inginkan. Maka, ia pun lebih
mendekat lagi,
dan meletakkan badan Yusuf di atas dadanya. Ia berharap
Yusuf akan tertarik kepadanya dan mahu memenuhi
keinginannya. Akan
tetapi, di luar dugaannya, Yusuf malah menghindar
darinya dan segera berlari hendak keluar dari kamar
itu.
Isteri al-Aziz tak habis berfikir mengapa Yusuf
sedemikian keras mempertahankan kesuciannya di hadapan
wanita cantik yang telah
siap melayaninya, bahkan lari menjauh darinya. Ia lalu
mengejar Yusuf dari belakang untuk memaksanya. Ketika
sudah sangat dekat,
dipegangnyalah bahagian belakang baju Yusuf dan
ditariknya kuat-kuat. Dengan penuh kemarahan, ia
melarang Yusuf keluar dari
kamar. Akhirnya, koyaklah bahagian belakang baju
Yusuf.
Pada saat yang sama, tiba-tiba al-Aziz sudah berada di
hadapan mereka berdua, bersama saudara sepupu Zulaiha.
Dengan serta
merta isteri al-Aziz berkata: "Apakah hukuman bagi
orang yang akan berbuat serong kepada isterimu, selain
dipenjarakan atau
(dihukum) dengan seksaan yang pedih?" Dengan perkataan
itu, Zulaiha bermaksud menyatakan bahawa Yusuf telah
berbuat yang
melampaui batas atas dirinya.
Al-Aziz sangat marah atas terjadinya peristiwa
memalukan itu. Kerana tidak menduga hal itu dilakukan
oleh Yusuf, seorang anak
terlantar yang telah dibelinya, dipeliharanya, dan
dikasihinya seperti kasih sayang seorang ayah kepada
puteranya sendiri. Tidak
mungkin hal itu boleh terjadi?
Yusuf sedar bahawa isteri al-Aziz telah berkata dusta
tentang dirinya dan menuduhnya dengan tuduhan palsu.
Maka, segeralah
Zulaiha berkata kepada al-Aziz: "Dia menggodaku untuk
menundukkan diriku (kepadanya)".
Allah ternyata menghendaki bebasnya Yusuf dari tuduhan
wanita itu. Seorang bayi yang masih menyusu, anak salah
seorang keluarga
Zulaiha yang ketika itu datang ke istana, tiba-tiba
berkata, "Jika bajunya koyak di bahagian muka, maka
wanita itulah yang benar
dan Yusuf termasuk orang-orang dusta. Dan jika bajunya
koyak di bahagian belakang, maka wanita itulah yang
dusta dan Yusuf
termasuk orang-orang yang benar".
Mendengar itu, segeralah al-Aziz menghampiri Yusuf
untuk melihat bajunya. Demi didapatinya baju Yusuf
koyak di bahagian
belakang (kerana tarikan isterinya), mengertilah
al-Aziz akan pengkhianatan isterinya dan bersihnya
Yusuf dari tuduhan itu. Kemudian
ia berkata: "Sungguh, inilah tipu muslihatmu. Sungguh
dahsyat tipu muslihatmu!"
Kemudian ia memandang Yusuf seraya berkata: "Hai,
Yusuf, berpalinglah dari ini!" Maksud perkataan itu
adalah agar Yusuf tidak
memberitakan aib yang terjadi atas diri isterinya itu,
sehingga tidak terdengar oleh orang ramai. Sedangkan
kepada isterinya ia
berkata: "Dan (kamu, hai isteriku) mohon ampunlah atas
dosamu itu, kerana sesungguhnya kamu termasuk
orang-orang yang berbuat
salah".
"Celakalah kamu, Yusuf!" Kata isteri al-Aziz dengan
kemarahan yang memuncak, kerana Yusuf menolak
kecantikan dan kebesarannya.
"Tidak! aku tak akan membiarkanmu, Yusuf. Bagaimana pun
akan kucari jalan lain yang dapat mempedayakanmu,
hingga kamu
memenuhi apa yang kukehendaki..."
Hari-hari pun berlalu, dan al-Aziz yang kalah dalam
urusan itu berusaha memohon kerelaan isterinya
menghadapi kenyataan itu,
sementara sang isteri menyanggahnya dengan dalih bahawa
suaminya telah menjatuhkan martabat dan kemuliaannya.
Zulaiha tahu
benar bahawa setiap kali ia menampakkan kebenciannya
kepada suaminya, sang suami benar-benar berusaha
mendekati dan
membujuknya kerana ia sangat mencintainya dan merasa
lemah di hadapan kecantikan wajahnya dan ketinggian
peribadinya, yang
sebenarnya bersifat mulia.
Yusuf sendiri akhirnya berdiam sepanjang hari di dalam
kamarnya, kerana peristiwa aib itu terjadi di situ. Ia
tidak keluar dari
kamarnya kecuali ada suatu pekerjaan penting yang
ditugaskan oleh tuannya, al-Aziz.
Hari-hari yang berat dan keras selalu menghantui isteri
al-Aziz. Ia menanti datang suatu peluang untuk kembali
melakukan tipu
dayanya atas diri Yusuf, sebab apa yang baru terjadi
itu justeru menambah rasa cinta dan keinginan untuk
berhubungan dengan
Yusuf, meskipun secara terang-terang ia telah berdusta
atas diri Yusuf untuk menghilangkan keraguan suaminya
terhadapnya.
Hari demi hari dirasakan oleh isteri al-Aziz dengan
berat dan terasa lambat berjalan. Di kota, beberapa
peristiwa yang tak terduga
telah terjadi. Wanita-wanita di Mesir, ketika itu,
tidak berkeinginan bicara lain kecuali tentang
peristiwa aib antara isteri al-Aziz dan
Yusuf. Yang sungguh menghairankan, bagaimana peristiwa
itu dapat tersebar di seluruh kota, padahal semua pihak
di istana al-Aziz
berusaha merahsiakannya.
Dugaan sementara dialamatkan kepada pelayan laki-laki
istana dan sebahagian pelayan wanita yang masih ada
hubungan keluarga
dengannya. Besar kemungkinan, merekalah yang
membocorkan rahsia itu.
Langit ibu kota Mesir penuh dengan gema kisah sekitar
kejadian itu. Dalam setiap kelompok wanita, tidak ada
masalah lain yang
dibicarakan kecuali tentang isteri al-Aziz dan Yusuf,
semuanya dicurahkan tanpa segan silu.
Akhirnya, sampailah berita yang menyakitkan itu ke
telinga isteri al-Aziz. Dan tentu saja hal itu
menimbulkan kemarahannya yang luar
biasa.
Akan tetapi, apa hendak dikata, ia tidak dapat berbuat
apa-apa kecuali menerima kenyataan itu dengan hati yang
semakin pedih.
"Betapa perjalanan hidupku menjadi sepotong roti dalam
mulut wanita-wanita kota yang dipenuhi cemuhan dan
ejekan." Keluhnya
dalam hati, "padahal, di hari-hari kemarin, tak
seorangpun dari mereka berani menyebut namaku kecuali
dengan segala penghormatan
dan kemuliaan".
Kemudian ketenangan mulai meresap di hati isteri
al-Aziz, setelah jiwanya tergoncang kerana kemarahan.
Mulailah ia berbicara
kepada dirinya sendiri:" Aku wanita, dan mereka pun
wanita. Harus mereka terima hinaan sebagaimana hinaan
yang mereka tujukan
kepadaku. Jika mereka memperolok-olokku dengan
lidahnya, maka sesungguhnya olok-olokku nanti lebih
keras atas diri mereka..."
Maka, keluarlah dia dari kamarnya menuju beranda
istananya yang menghadap Sungai Nil.
Di tepian sungai itu, ia mulai berfikir, sementara
angin lembut menerpa pepohonan bunga yang mengelilingi
istana, membuat
harum udara di sekitarnya. Isteri al-Aziz mulai
merenung; fikirannya berputar ke sana kemari, mengikuti
alunan ombak sungai yang
tenang.
Tak lama kemudian, wajahnya tampak sedikit berseri,
kemudian mulutnya tersenyum. Telah ditemukan satu cara
untuk
membereskan masalah itu. Ya, mengapa ia tidak
menghentikan cemuhan wanita-wanita itu tentang dirinya
dan Yusuf dalam suatu
pertemuan terbuka? Mengapa ia tidak memanggil
wanita-wanita itu untuk duduk bercakap-cakap seperti
biasa ia lakukan sebelum ini,
lalu ia perintahkan Yusuf keluar (menampakkan diri di
hadapan mereka)? Nanti mereka akan sedar dan mengerti
mengapa isteri al-Aziz
jatuh hati kepada anak angkatnya.
Kemudian dipanggilnya semua wanita itu ke istana untuk
bersukaria. Kepada mereka dipersembahkan berbagai
macam
buah-buahan, dan masing-masing diberi sebilah pisau
sebagai alat pemotongnya. Akan dilihat oleh isteri
Al-Aziz apa yang nanti bakal
terjadi ketika Yusuf muncul secara tiba-tiba di
tengah-tengah mereka.
Hairanlah kebanyakan wanita bangsawan terhadap
panggilan isteri al-Aziz itu. Mereka menyaksikan
suasana yang lain dari
biasanya. Ruangan istana, ketika itu, dihiasi dengan
penuh kemegahan. Wanita-wanita yang hadir duduk di
kerusi yang indah. Di
hadapan mereka masing-masing terdapat sepinggan buah
segar dan sebilah pisau pemotongnya.
Semua pandangan hadirin ditujukan kepada barang-barang
yang ada dalam ruangan istana itu. Semuanya diam
membisu, tak ada
yang berani berbicara dengan jelas tentang apa yang
tersimpan di dada dan mulailah isteri Aziz membuka
acara. Pembicaraan hanya
berkisar tentang buah dan masalah-masalah pesta ria
itu, sama sekali jauh dari masalah peristiwa dirinya
dengan Yusuf. Ia berkata
bahawa segala yang disediakannya kali ini dimaksudkan
sebagai kejutan bagi wanita-wanita itu.
Di antara wanita-wanita yang hadir dalam jamuan itu,
ada salah seorang yang menyindir. Dengan cara yang
cerdik, ia berkisah
kepada hadirin tentang seorang pemudi yang jatuh cinta,
dan mati dalam kesedihan kerana laki-laki yang
meminangnya tewas di
medan perang melawan musuh-musuh negerinya. Tetapi
isteri al-Aziz, dengan lebih cerdik, mengalihkan
pembicaraan ke
masalah-masalah lain.
Kemudian ia berkata kepada Yusuf, "Keluarlah
(tampakkanlah dirimu) kepada mereka."
Maka, keluarlah Yusuf dari tempatnya menuju jamuan
wanita-wanita itu. Betapa terkejutnya wanita-wanita itu
demi melihat
ketampanan Yusuf. Mereka sama tercengang dan
kehairanan. Dan tanpa disedari, mereka memotong
jari-jari mereka sendiri dengan
pisau. Mereka mengira sedang memotong buah, padahal
tidak dirasakan darah mengalir dari tangan mereka.
Lama-kelamaan mereka
baru ingat dan menyedari apa yang telah mereka lakukan,
kemudian berkata, "Maha Besar Allah. Ini bukanlah
manusia. Ia tiada lain
dari malaikat yang mulia".
Ketika itu wajah isteri al-Aziz menahan sedih dan duka.
Berubahlah wajah nan cantik itu menjadi marah. Ia
berkata seraya
menunjuk kepada Yusuf: "Itulah orang yang menyebabkan
aku di cela kerana (tertarik) kepadanya, dan
sesungguhnya aku telah
menginginkan dirinya, tetapi ia menolak. Dan (sekarang)
jika dia tidak mentaati apa yang kuperintahkan, nescaya
ia akan
dipenjarakan dan dia akan menjadi orang yang hina".
Yusuf mendengar apa yang dikatakan oleh isteri Aziz
dengan sikap yang tenang dan tabah, di hadapan
wanita-wanita kota. Ia pun
mendengar keinginan setiap wanita yang hadir,
sebagaimana keinginan isteri al-Aziz terhadapnya.
Sambil berlindung kepada Allah,
Yusuf berkata, "Tuhanku! Penjara lebih kusukai daripada
memenuhi ajakan mereka kepadaku. Dan jika tidak Allah
hindarkan aku dari
tipu daya mereka, tentulah aku tertarik kepada mereka.
Dan tentulah aku termasuk orang yang jahil". Allah
meneguhkan
hamba-hamba-Nya yang mukmin serta berlindung dan
berpegang dengan kebenaran yang diperintahkan oleh-Nya
..." Maka, Tuhan
memperkenankan doa Yusuf, dan Dia menghindarkan Yusuf
dari tipu daya mereka. Sesungguhnya Dialah Yang Maha
Mendengar,
Yang Maha Mengetahui".
Pulanglah wanita-wanita kota itu dengan tangan mereka
berlumuran darah. Mereka semua akhirnya sedar bahawa
Zulaiha, isteri
al-Aziz, terhalang cintanya kepada Yusuf. Yusuf,
kemudian meninggalkan ruangan itu dan pergi ke
kamarnya. Isteri al-Aziz tampak
duduk sambil berfikir. Ia memang menghendaki kehinaan
atas wanita-wanita yang menghina dirinya dengan Yusuf,
dan hal itu telah
selesai ia lakukan. Menanglah ia dengan suatu
kemenangan yang dapat menyembuhkan sakit hatinya.
Akan tetapi, setelah ia lebih dalam berfikir, ia sedari
bahawa perasaan yang ditanggungnya selama ini adalah
suatu sebab yang
berat baginya. Ia berbicara dengan dirinya sendiri:
"Yusuf telah menghindar dariku dua kali; sekali
dikamarnya dan sekali di hadapan
wanita-wanita kota. Sesungguhnya wanita-wanita kota itu
pun mencintai Yusuf sebagaimana aku, tetapi semuanya
tidak memperoleh
sesuatu darinya. Ancamanku kepadanya tidak ditakutinya.
Celakalah kamu meskipun aku mencintaimu."
Pergilah isteri al-Aziz menemui suaminya. Al-Aziz
kemudian bertanya tentang jamuan yang diadakannya.
Isterinya menjelaskan
bahawa jamuan itu hanya menambah keburukan baginya.
"Bagaimana hal itu boleh terjadi?" Tanya Al-Aziz.
"Jika Yusuf tidak disembunyikan dari seisi istana dan
kota, dia akan selalu berbicara tentang apa yang
memburukkanku..." Jawabnya.
Maka, mendekatlah al-Aziz kepada isterinya seraya
berkata. "Bagaimana engkau boleh rela dengan apa yang
memburukkanmu?"
Gementarlah badan wanita itu, dan kemudian berkata:
"Kalau begitu, masukkanlah Yusuf ke dalam penjara,
sehingga semua orang
akan melupakannya".
Al-Aziz menyetujui usul isterinya itu. Tak lama
kemudian, beberapa pengawal istana membawa Yusuf ke
penjara. Tatkala Yusuf
keluar dari pintu istana, isteri al-Aziz berdiri di
belakang jendela kamarya sambil memandanginya. Ia
merasa seolah-olah sebahagian
dari hatinya tercabut, meskipun dialah yang mendesak
suaminya agar memasukkan Yusuf ke dalam penjara.
Saban hari berlalu, dan kesedihan selalu mewarnai wajah
isteri al-Aziz, sementara suaminya hanya boleh melihat
hal itu dengan
sikap diam dan tidak kuasa berbuat sesuatu. Wanita itu
bertanya kepada dirinya sendiri: "Salahkah aku tatkala
menyuruh al-Aziz
memasukkan Yusuf ke dalam penjara? Ya, kuharamkan
diriku melihat Yusuf... "Sekali lagi ia berfikir dalam
kegelisahannya: "Tetapi,
apakah aku bersalah dalam urusan itu?" Ia menyanggah
dirinya sendiri untuk lepas dari azab, seperti seorang
dermawan yang haus,
tetapi tidak sanggup menjangkau air yang dipikul di
bahunya sendiri.
Hari demi hari, bulan demi bulan, dan tahun demi tahun
berjalan tanpa sunyi dari cerita isteri al-Aziz dengan
Yusuf. Pada suatu
hari, datanglah utusan raja, memerintahkannya untuk
datang keistana. Isteri al-Aziz sangat hairan, sebab
hal itu belum terjadi
sebelumnya. Ia bertanya kepada suaminya apa kira-kira
yang menyebabkan sang raja memanggilnya ke istana.
Al-Aziz menjawab, "Mungkin ada urusan yang berhubungan
dengan Yusuf."
Mendengar nama Yusuf disebut lagi, lenyaplah segala
dugaan. Tetapi, benarkah raja hanya berkehendak untuk
berbicara
dengannya tentang Yusuf?
Dengan penuh pertanyaan di benaknya, pergilah isteri
al-Aziz menuju istana raja. Di sana didapatinya
wanita-wanita yang telah
memotong tangannya beberapa waktu yang lalu, semuanya
menghadap Raja Mesir. Sementara itu, sang raja
memandangi wajah para
wanita itu satu persatu, kemudian mengajukan pertanyaan
singkat kepada wanita-wanita itu: "Bagaimana keadaanmu
ketika kamu
menggoda Yusuf untuk menundukkan dirinya (kepadamu)?"
Mereka menjawab serentak: "Kami tiada mendapati suatu
keburukan padanya (Yusuf)".
Tiba-tiba, tanpa diminta oleh Raja, isteri al-Aziz
berbicara. Ia merasa telah tiba saatnya untuk berbicara
terus terang perihal itu, agar
hilang semua beban dosa kerana tindakan aniayanya
terhadap Yusuf. Di hadapan Raja, wanita-wanita kota,
dan seluruh yang hadir di
situ, ia menerangkan: "Sekarang jelaslah kebenaran itu.
Akulah yang menggodanya untuk menundukkan dirinya
(kepadaku), dan
sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang benar".
(Yusuf berkata), "Yang demikian itu agar dia (al-Aziz)
mengetahui bahawa sesungguhnya aku tidak berkhianat
kepadanya di
belakangnya, dan bahawasanya Allah tidak merelai
tipudaya orang-orang yang berkhianat. Dan aku tidak
membebaskan diriku (dari
kesalahan), kerana sesungguhnya nafsu itu selalu
menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi
rahmat oleh Tuhanku.
Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun, Maha Penyayang".
Terjadi perbedaan pendapat tentang kehidupan perempuan
itu selanjutnya. Sebahagian orang berpendapat bahawa
sejak itu isteri
al-Aziz hidup bersama kesedihan dan putus asa kerana
ingatannya kepada Yusuf. Sebahagian yang lain
berpendapat bahawa isteri
al-Aziz itu akhirnya pindah ke suatu tempat yang jauh,
dan tiada khabar beritanya sama sekali. Yang jelas,
kehidupan wanita itu
menjadi terganggu, kerana cinta kepada Yusuf.
Namun ada yang mengisahkan setelah peristiwa itu
Zulaiha bertaubat kepada Allah SWT. Ketika Yusuf diutus
menjadi Rasul dan
menjadi penguasa menggantikan Al-Aziz, Nabi Yusuf
berjumpa dengan Zulaiha yang ketika itu keadaannya
sudah tua. Akhirnya Allah
menjadikan Zulaiha muda remaja dan berkahwin dengan
Nabi Yusuf. Maka jadilah Zulaiha sebagai seorang wanita
yang solehah yang
sentiasa beramal kepada Allah SWT.
(Kisah Zulaiha ini dapat di baca dalam Al-Quran surah
Yusuf ayat 21-53)
dipetik dari laman web Darul Nu'man
Ra'il, wanita cantik yang biasa dipanggil dengan nama
Zulaiha. Ia senantiasa
mempercantik paras, menghias diri, dan memakai
wangi-wangian. Kemudian berdiri, pagi dan petang, di
beranda istananya di atas
Sungai Nil, dalam kegelisahan yang tak jelas
penyebabnya.
Angin sepoi bertiup tenang dan halus, seakan enggan
mengusik ranting-ranting pohon bunga yang mengelilingi
beranda istana
itu, Zulaiha memandangi sungai dan airnya yang tenang,
dan sesekali wajahnya menoleh ke atas, melihat
bintang-bintang yang
bertaburan di langit nan tinggi, mengelilingi bulan
yang sebahagian sinarnya terhalang oleh awan.
Sesaat kemudian, seorang pelayan menghampiri dengan
segelas sari buah dingin untuknya, tetapi sang puteri
menolak dan malah
memerintahkan pelayan itu untuk kembali. Nafasnya
semakin menyesakkan, serasa hampir-hampir mencekik
lehernya. Dia sendiri tidak
tahu apa yang digelisahkannya. Kecantikan? Bukan! Dia
wanita tercantik di seluruh Mesir. Anak? Mungkin itu
benar, sebab sampai
saat ini ia belum dikurniai seorang anak pun.
Sebenarnya ia dapat saja mengambil anak angkat yang
disukainya, sebab ia orang terkaya di negeri itu. Tapi
naluri keibuannya
ternyata menentang niatnya. Dia ingin mengandung dan
melahirkan puteranya sendiri, sebagaimana wanita-wanita
lain. Tapi suratan
takdir menghendaki lain, suaminya tidak kuasa mengubah
impiannya menjadi kenyataan.
Berkecamuklah semua fikiran itu di kepalanya. Ia
terlena dalam lamunannya, sampai suara halus suaminya
tiba-tiba mengejutkan
hatinya.
"Ra'il, isteriku yang cantik, bergembiralah!" Kata
suaminya sambil menunjukkan sesuatu.
Zulaiha menoleh kepada suaminya, dan betapa terkejut
ketika ia lihat suaminya datang bersama seorang anak
kecil.
"Siapa namamu?" tanya Zulaiha. Dengan suara yang
hampir-hampir tidak terdengar, anak itu menjawab,
"Yusuf".
Al-Aziz, suami Zulaiha, kemudian mengikutinya dari
belakang serta berkata, "Telah kubeli ia dari kafilah
yang didapati disebuah
telaga di padang pasir. Berikanlah kepadanya tempat
(dan layanan) yang baik, boleh jadi ia bermanfaat bagi
kita, atau kita pungut ia
sebagai anak".
Isteri al-Aziz tidak mengetahui takdir apa yang bakal
terjadi antara dia dan anak itu di hari-hari yang akan
datang. Yang jelas ia
merasa senang atas kedatangan anak itu, dan hilanglah
kesedihan yang selama ini menghimpit dadanya.
Hari-hari berlalu. Yusuf semakin besar dan menjadi
dewasa. Wajahnya tampak semakin tampan. Isteri Aziz
tidak mengerti kebahagiaan
apa yang meresap di hatinya setiap kali ia memandang
Yusuf, dan kesedihan yang menghantuinya ketika Yusuf
hilang dari
pandangannya.
Setiap kali malam tiba, dan Yusuf pergi ke kamar
tidurnya, Zulaiha merasa ada sesuatu yang mengusik
lubuk jiwanya, sehingga
kadang kala ia bangun meninggalkan suaminya yang sedang
tidur, kemudian pergi ke pintu kamar Yusuf. Zulaiha
berdiri di pintu
kamar Yusuf beberapa saat. Dalam hatinya timbul
keraguan: apakah sebaiknya ia masuk menemui Yusuf
seperti yang diinginkannya,
ataukah ia kembali ke tempatnya sendiri di samping
suaminya.
Fikiran seperti itu selalu mengganggu hatinya
semalaman, sampai cahaya matahari pagi terlihat masuk
melalui jendela-jendela
kamarnya. Jika sudah demikian, ia kembali ke kamar
suaminya.
Setiap kali pandangannya bertemu dengan pandangan
Yusuf, ia merasakan keinginan yang kuat untuk selalu
berada dekat pemuda
itu, dan tak ingin rasanya berpisah untuk
selama-lamanya. Namun, hati kecilnya berkata bahawa
Yusuf tidak memendam perasaan
yang sama seperti perasaannya. Pertanyaan yang selalu
mengusik kalbunya adalah: Apakah Yusuf mencintainya
sebagaimana ia
mencintai Yusuf? Apakah Yusuf memendam perasaan seperti
yang dipendamnya? Meskipun hati kecilnya berkata bahawa
Yusuf tidak
menampakkan sikap seperti itu, ia tidak mahu mendengar
jawapan itu.
Pada suatu petang, isteri Aziz merasa tidak kuasa lagi
hanya berdiri di ambang cinta yang disimpannya kepada
Yusuf. Ia kemudian
berdiri dimuka cermin, mengagumi kecantikan parasnya,
seraya berkata kepada dirinya sendiri, "Adakah, di
seluruh Mesir ini, wanita
yang kecantikannya melebihi kecantikanku, sehingga
Yusuf menghindar dariku? Tidak boleh tidak, wahai,
Yusuf, hari ini aku akan
menjumpaimu dengan segala macam bujukan dan rayuan,
sampai engkau tunduk kepadaku".
Kemudian ia membuka lemari, dan matanya mengamati
setumpuk pakaian di dalamnya. Dipilihnya salah satu
gaunnya yang paling
indah, berwarna merah dengan model yang membangkitkan
ghairah laki-laki. Manakala gaun itu dikenakan, maka
sebahagian
auratnya yang seharusnya tersembunyi akan tampak.
Itulah yang justeru dikehendakinya. Kemudian ia memakai
wangi wangian di
sekujur tubuhnya, yang menyebabkan seorang lelaki akan
berghairah kerana baunya.
Setelah itu, ia atur rambutnya seindah-indahnya di
malam yang sunyi itu. Setelah menyelesaikan dan
menyempurnakan
dandanannya, Zulaiha mengamati sekelilingnya, hingga ia
benar-benar yakin bahawa tidak ada seorang pun
pelayannya yang masih
menunggunya di situ; semuanya sudah lelap di kamarnya
masing-masing di kegelapan malam itu. Ia pun tahu
bahawa suaminya
sedang memenuhi panggilan seorang hakim Mesir dan sibuk
dengan urusan-urusannya, sehingga tidak mungkin ia akan
kembali
sebelum fajar pagi tiba.
Setelah segalanya beres, pergilah ia menuju kamar
Yusuf. Didapatinya pintu kamar itu tertutup dan
lampunya sudah dimatikan.
Dengan perlahan ia mengetuk; satu kali, dua kali ...
dan tiga kali. Tak lama kemudian, Yusuf pun bangun
menyalakan lampu dan
membukakan pintu. Alangkah terkejutnya Yusuf ketika ia
melihat isteri al-Aziz sudah berada di hadapannya. Tapi
ia tidak berkata
apa-apa kecuali hanya diam menunduk.
Tiba-tiba Zulaiha masuk ke dalam, mendekatinya dengan
ramah, dan memegang tangannya sambil menutup pintu
kamar. Zulaiha
merasakan kegelisahan, ketakutan, dan tak boleh
menjawab pandangan kedua mata Yusuf. Ia lalu berpaling
ke arah Yusuf, sedangkan
Yusuf selalu berusaha menjauh darinya.
Isteri al-Aziz kemudian berkata, "Apakah maksud semua
ini, hai, Yusuf? Janganlah engkau menjauh dariku,
sehingga aku binasa
kerana rindu kepadamu".
Yusuf diam tanpa jawapan.
Isteri al-Aziz mendekatinya lagi seraya berkata,
"Aduhai, Yusuf, betapa indahnya rambutmu!"
Yusuf menjawab, "Inilah sesuatu yang pertama kali akan
berhamburan dari tubuhku setelah aku mati".
"Aduhai, Yusuf, betapa indahnya kedua matamu!" Bujuk
isteri al-Aziz lagi.
"Keduanya ini adalah benda yang pertama kali akan lepas
dari kepalaku dan akan mengalir di muka bumi!"
Isteri al-Aziz berkata lagi, "Betapa tampannya wajahmu,
hai, Yusuf".
"Tanah kelak akan melumatnya," Jawab Yusuf.
Kemudian Zulaiha berkata kepadanya, "Telah terbuka
tubuhku kerana ketampanan wajahmu".
"Syaitan menolongmu untuk berbuat hal itu!" Kata
Yusuf.
"Yusuf! Bagaimanapun aku harus mendapatkan apa yang
selama ini kudambakan, dan kini aku datang kerananya".
Kata Zulaiha.
Yusuf menjawab: "Ke manakah aku akan lari dari murka
Allah jika aku menderhakaiNya?"
Sedarlah isteri al-Aziz bahawa Yusuf benar-benar tidak
mahu memenuhi apa yang ia inginkan. Maka, ia pun lebih
mendekat lagi,
dan meletakkan badan Yusuf di atas dadanya. Ia berharap
Yusuf akan tertarik kepadanya dan mahu memenuhi
keinginannya. Akan
tetapi, di luar dugaannya, Yusuf malah menghindar
darinya dan segera berlari hendak keluar dari kamar
itu.
Isteri al-Aziz tak habis berfikir mengapa Yusuf
sedemikian keras mempertahankan kesuciannya di hadapan
wanita cantik yang telah
siap melayaninya, bahkan lari menjauh darinya. Ia lalu
mengejar Yusuf dari belakang untuk memaksanya. Ketika
sudah sangat dekat,
dipegangnyalah bahagian belakang baju Yusuf dan
ditariknya kuat-kuat. Dengan penuh kemarahan, ia
melarang Yusuf keluar dari
kamar. Akhirnya, koyaklah bahagian belakang baju
Yusuf.
Pada saat yang sama, tiba-tiba al-Aziz sudah berada di
hadapan mereka berdua, bersama saudara sepupu Zulaiha.
Dengan serta
merta isteri al-Aziz berkata: "Apakah hukuman bagi
orang yang akan berbuat serong kepada isterimu, selain
dipenjarakan atau
(dihukum) dengan seksaan yang pedih?" Dengan perkataan
itu, Zulaiha bermaksud menyatakan bahawa Yusuf telah
berbuat yang
melampaui batas atas dirinya.
Al-Aziz sangat marah atas terjadinya peristiwa
memalukan itu. Kerana tidak menduga hal itu dilakukan
oleh Yusuf, seorang anak
terlantar yang telah dibelinya, dipeliharanya, dan
dikasihinya seperti kasih sayang seorang ayah kepada
puteranya sendiri. Tidak
mungkin hal itu boleh terjadi?
Yusuf sedar bahawa isteri al-Aziz telah berkata dusta
tentang dirinya dan menuduhnya dengan tuduhan palsu.
Maka, segeralah
Zulaiha berkata kepada al-Aziz: "Dia menggodaku untuk
menundukkan diriku (kepadanya)".
Allah ternyata menghendaki bebasnya Yusuf dari tuduhan
wanita itu. Seorang bayi yang masih menyusu, anak salah
seorang keluarga
Zulaiha yang ketika itu datang ke istana, tiba-tiba
berkata, "Jika bajunya koyak di bahagian muka, maka
wanita itulah yang benar
dan Yusuf termasuk orang-orang dusta. Dan jika bajunya
koyak di bahagian belakang, maka wanita itulah yang
dusta dan Yusuf
termasuk orang-orang yang benar".
Mendengar itu, segeralah al-Aziz menghampiri Yusuf
untuk melihat bajunya. Demi didapatinya baju Yusuf
koyak di bahagian
belakang (kerana tarikan isterinya), mengertilah
al-Aziz akan pengkhianatan isterinya dan bersihnya
Yusuf dari tuduhan itu. Kemudian
ia berkata: "Sungguh, inilah tipu muslihatmu. Sungguh
dahsyat tipu muslihatmu!"
Kemudian ia memandang Yusuf seraya berkata: "Hai,
Yusuf, berpalinglah dari ini!" Maksud perkataan itu
adalah agar Yusuf tidak
memberitakan aib yang terjadi atas diri isterinya itu,
sehingga tidak terdengar oleh orang ramai. Sedangkan
kepada isterinya ia
berkata: "Dan (kamu, hai isteriku) mohon ampunlah atas
dosamu itu, kerana sesungguhnya kamu termasuk
orang-orang yang berbuat
salah".
"Celakalah kamu, Yusuf!" Kata isteri al-Aziz dengan
kemarahan yang memuncak, kerana Yusuf menolak
kecantikan dan kebesarannya.
"Tidak! aku tak akan membiarkanmu, Yusuf. Bagaimana pun
akan kucari jalan lain yang dapat mempedayakanmu,
hingga kamu
memenuhi apa yang kukehendaki..."
Hari-hari pun berlalu, dan al-Aziz yang kalah dalam
urusan itu berusaha memohon kerelaan isterinya
menghadapi kenyataan itu,
sementara sang isteri menyanggahnya dengan dalih bahawa
suaminya telah menjatuhkan martabat dan kemuliaannya.
Zulaiha tahu
benar bahawa setiap kali ia menampakkan kebenciannya
kepada suaminya, sang suami benar-benar berusaha
mendekati dan
membujuknya kerana ia sangat mencintainya dan merasa
lemah di hadapan kecantikan wajahnya dan ketinggian
peribadinya, yang
sebenarnya bersifat mulia.
Yusuf sendiri akhirnya berdiam sepanjang hari di dalam
kamarnya, kerana peristiwa aib itu terjadi di situ. Ia
tidak keluar dari
kamarnya kecuali ada suatu pekerjaan penting yang
ditugaskan oleh tuannya, al-Aziz.
Hari-hari yang berat dan keras selalu menghantui isteri
al-Aziz. Ia menanti datang suatu peluang untuk kembali
melakukan tipu
dayanya atas diri Yusuf, sebab apa yang baru terjadi
itu justeru menambah rasa cinta dan keinginan untuk
berhubungan dengan
Yusuf, meskipun secara terang-terang ia telah berdusta
atas diri Yusuf untuk menghilangkan keraguan suaminya
terhadapnya.
Hari demi hari dirasakan oleh isteri al-Aziz dengan
berat dan terasa lambat berjalan. Di kota, beberapa
peristiwa yang tak terduga
telah terjadi. Wanita-wanita di Mesir, ketika itu,
tidak berkeinginan bicara lain kecuali tentang
peristiwa aib antara isteri al-Aziz dan
Yusuf. Yang sungguh menghairankan, bagaimana peristiwa
itu dapat tersebar di seluruh kota, padahal semua pihak
di istana al-Aziz
berusaha merahsiakannya.
Dugaan sementara dialamatkan kepada pelayan laki-laki
istana dan sebahagian pelayan wanita yang masih ada
hubungan keluarga
dengannya. Besar kemungkinan, merekalah yang
membocorkan rahsia itu.
Langit ibu kota Mesir penuh dengan gema kisah sekitar
kejadian itu. Dalam setiap kelompok wanita, tidak ada
masalah lain yang
dibicarakan kecuali tentang isteri al-Aziz dan Yusuf,
semuanya dicurahkan tanpa segan silu.
Akhirnya, sampailah berita yang menyakitkan itu ke
telinga isteri al-Aziz. Dan tentu saja hal itu
menimbulkan kemarahannya yang luar
biasa.
Akan tetapi, apa hendak dikata, ia tidak dapat berbuat
apa-apa kecuali menerima kenyataan itu dengan hati yang
semakin pedih.
"Betapa perjalanan hidupku menjadi sepotong roti dalam
mulut wanita-wanita kota yang dipenuhi cemuhan dan
ejekan." Keluhnya
dalam hati, "padahal, di hari-hari kemarin, tak
seorangpun dari mereka berani menyebut namaku kecuali
dengan segala penghormatan
dan kemuliaan".
Kemudian ketenangan mulai meresap di hati isteri
al-Aziz, setelah jiwanya tergoncang kerana kemarahan.
Mulailah ia berbicara
kepada dirinya sendiri:" Aku wanita, dan mereka pun
wanita. Harus mereka terima hinaan sebagaimana hinaan
yang mereka tujukan
kepadaku. Jika mereka memperolok-olokku dengan
lidahnya, maka sesungguhnya olok-olokku nanti lebih
keras atas diri mereka..."
Maka, keluarlah dia dari kamarnya menuju beranda
istananya yang menghadap Sungai Nil.
Di tepian sungai itu, ia mulai berfikir, sementara
angin lembut menerpa pepohonan bunga yang mengelilingi
istana, membuat
harum udara di sekitarnya. Isteri al-Aziz mulai
merenung; fikirannya berputar ke sana kemari, mengikuti
alunan ombak sungai yang
tenang.
Tak lama kemudian, wajahnya tampak sedikit berseri,
kemudian mulutnya tersenyum. Telah ditemukan satu cara
untuk
membereskan masalah itu. Ya, mengapa ia tidak
menghentikan cemuhan wanita-wanita itu tentang dirinya
dan Yusuf dalam suatu
pertemuan terbuka? Mengapa ia tidak memanggil
wanita-wanita itu untuk duduk bercakap-cakap seperti
biasa ia lakukan sebelum ini,
lalu ia perintahkan Yusuf keluar (menampakkan diri di
hadapan mereka)? Nanti mereka akan sedar dan mengerti
mengapa isteri al-Aziz
jatuh hati kepada anak angkatnya.
Kemudian dipanggilnya semua wanita itu ke istana untuk
bersukaria. Kepada mereka dipersembahkan berbagai
macam
buah-buahan, dan masing-masing diberi sebilah pisau
sebagai alat pemotongnya. Akan dilihat oleh isteri
Al-Aziz apa yang nanti bakal
terjadi ketika Yusuf muncul secara tiba-tiba di
tengah-tengah mereka.
Hairanlah kebanyakan wanita bangsawan terhadap
panggilan isteri al-Aziz itu. Mereka menyaksikan
suasana yang lain dari
biasanya. Ruangan istana, ketika itu, dihiasi dengan
penuh kemegahan. Wanita-wanita yang hadir duduk di
kerusi yang indah. Di
hadapan mereka masing-masing terdapat sepinggan buah
segar dan sebilah pisau pemotongnya.
Semua pandangan hadirin ditujukan kepada barang-barang
yang ada dalam ruangan istana itu. Semuanya diam
membisu, tak ada
yang berani berbicara dengan jelas tentang apa yang
tersimpan di dada dan mulailah isteri Aziz membuka
acara. Pembicaraan hanya
berkisar tentang buah dan masalah-masalah pesta ria
itu, sama sekali jauh dari masalah peristiwa dirinya
dengan Yusuf. Ia berkata
bahawa segala yang disediakannya kali ini dimaksudkan
sebagai kejutan bagi wanita-wanita itu.
Di antara wanita-wanita yang hadir dalam jamuan itu,
ada salah seorang yang menyindir. Dengan cara yang
cerdik, ia berkisah
kepada hadirin tentang seorang pemudi yang jatuh cinta,
dan mati dalam kesedihan kerana laki-laki yang
meminangnya tewas di
medan perang melawan musuh-musuh negerinya. Tetapi
isteri al-Aziz, dengan lebih cerdik, mengalihkan
pembicaraan ke
masalah-masalah lain.
Kemudian ia berkata kepada Yusuf, "Keluarlah
(tampakkanlah dirimu) kepada mereka."
Maka, keluarlah Yusuf dari tempatnya menuju jamuan
wanita-wanita itu. Betapa terkejutnya wanita-wanita itu
demi melihat
ketampanan Yusuf. Mereka sama tercengang dan
kehairanan. Dan tanpa disedari, mereka memotong
jari-jari mereka sendiri dengan
pisau. Mereka mengira sedang memotong buah, padahal
tidak dirasakan darah mengalir dari tangan mereka.
Lama-kelamaan mereka
baru ingat dan menyedari apa yang telah mereka lakukan,
kemudian berkata, "Maha Besar Allah. Ini bukanlah
manusia. Ia tiada lain
dari malaikat yang mulia".
Ketika itu wajah isteri al-Aziz menahan sedih dan duka.
Berubahlah wajah nan cantik itu menjadi marah. Ia
berkata seraya
menunjuk kepada Yusuf: "Itulah orang yang menyebabkan
aku di cela kerana (tertarik) kepadanya, dan
sesungguhnya aku telah
menginginkan dirinya, tetapi ia menolak. Dan (sekarang)
jika dia tidak mentaati apa yang kuperintahkan, nescaya
ia akan
dipenjarakan dan dia akan menjadi orang yang hina".
Yusuf mendengar apa yang dikatakan oleh isteri Aziz
dengan sikap yang tenang dan tabah, di hadapan
wanita-wanita kota. Ia pun
mendengar keinginan setiap wanita yang hadir,
sebagaimana keinginan isteri al-Aziz terhadapnya.
Sambil berlindung kepada Allah,
Yusuf berkata, "Tuhanku! Penjara lebih kusukai daripada
memenuhi ajakan mereka kepadaku. Dan jika tidak Allah
hindarkan aku dari
tipu daya mereka, tentulah aku tertarik kepada mereka.
Dan tentulah aku termasuk orang yang jahil". Allah
meneguhkan
hamba-hamba-Nya yang mukmin serta berlindung dan
berpegang dengan kebenaran yang diperintahkan oleh-Nya
..." Maka, Tuhan
memperkenankan doa Yusuf, dan Dia menghindarkan Yusuf
dari tipu daya mereka. Sesungguhnya Dialah Yang Maha
Mendengar,
Yang Maha Mengetahui".
Pulanglah wanita-wanita kota itu dengan tangan mereka
berlumuran darah. Mereka semua akhirnya sedar bahawa
Zulaiha, isteri
al-Aziz, terhalang cintanya kepada Yusuf. Yusuf,
kemudian meninggalkan ruangan itu dan pergi ke
kamarnya. Isteri al-Aziz tampak
duduk sambil berfikir. Ia memang menghendaki kehinaan
atas wanita-wanita yang menghina dirinya dengan Yusuf,
dan hal itu telah
selesai ia lakukan. Menanglah ia dengan suatu
kemenangan yang dapat menyembuhkan sakit hatinya.
Akan tetapi, setelah ia lebih dalam berfikir, ia sedari
bahawa perasaan yang ditanggungnya selama ini adalah
suatu sebab yang
berat baginya. Ia berbicara dengan dirinya sendiri:
"Yusuf telah menghindar dariku dua kali; sekali
dikamarnya dan sekali di hadapan
wanita-wanita kota. Sesungguhnya wanita-wanita kota itu
pun mencintai Yusuf sebagaimana aku, tetapi semuanya
tidak memperoleh
sesuatu darinya. Ancamanku kepadanya tidak ditakutinya.
Celakalah kamu meskipun aku mencintaimu."
Pergilah isteri al-Aziz menemui suaminya. Al-Aziz
kemudian bertanya tentang jamuan yang diadakannya.
Isterinya menjelaskan
bahawa jamuan itu hanya menambah keburukan baginya.
"Bagaimana hal itu boleh terjadi?" Tanya Al-Aziz.
"Jika Yusuf tidak disembunyikan dari seisi istana dan
kota, dia akan selalu berbicara tentang apa yang
memburukkanku..." Jawabnya.
Maka, mendekatlah al-Aziz kepada isterinya seraya
berkata. "Bagaimana engkau boleh rela dengan apa yang
memburukkanmu?"
Gementarlah badan wanita itu, dan kemudian berkata:
"Kalau begitu, masukkanlah Yusuf ke dalam penjara,
sehingga semua orang
akan melupakannya".
Al-Aziz menyetujui usul isterinya itu. Tak lama
kemudian, beberapa pengawal istana membawa Yusuf ke
penjara. Tatkala Yusuf
keluar dari pintu istana, isteri al-Aziz berdiri di
belakang jendela kamarya sambil memandanginya. Ia
merasa seolah-olah sebahagian
dari hatinya tercabut, meskipun dialah yang mendesak
suaminya agar memasukkan Yusuf ke dalam penjara.
Saban hari berlalu, dan kesedihan selalu mewarnai wajah
isteri al-Aziz, sementara suaminya hanya boleh melihat
hal itu dengan
sikap diam dan tidak kuasa berbuat sesuatu. Wanita itu
bertanya kepada dirinya sendiri: "Salahkah aku tatkala
menyuruh al-Aziz
memasukkan Yusuf ke dalam penjara? Ya, kuharamkan
diriku melihat Yusuf... "Sekali lagi ia berfikir dalam
kegelisahannya: "Tetapi,
apakah aku bersalah dalam urusan itu?" Ia menyanggah
dirinya sendiri untuk lepas dari azab, seperti seorang
dermawan yang haus,
tetapi tidak sanggup menjangkau air yang dipikul di
bahunya sendiri.
Hari demi hari, bulan demi bulan, dan tahun demi tahun
berjalan tanpa sunyi dari cerita isteri al-Aziz dengan
Yusuf. Pada suatu
hari, datanglah utusan raja, memerintahkannya untuk
datang keistana. Isteri al-Aziz sangat hairan, sebab
hal itu belum terjadi
sebelumnya. Ia bertanya kepada suaminya apa kira-kira
yang menyebabkan sang raja memanggilnya ke istana.
Al-Aziz menjawab, "Mungkin ada urusan yang berhubungan
dengan Yusuf."
Mendengar nama Yusuf disebut lagi, lenyaplah segala
dugaan. Tetapi, benarkah raja hanya berkehendak untuk
berbicara
dengannya tentang Yusuf?
Dengan penuh pertanyaan di benaknya, pergilah isteri
al-Aziz menuju istana raja. Di sana didapatinya
wanita-wanita yang telah
memotong tangannya beberapa waktu yang lalu, semuanya
menghadap Raja Mesir. Sementara itu, sang raja
memandangi wajah para
wanita itu satu persatu, kemudian mengajukan pertanyaan
singkat kepada wanita-wanita itu: "Bagaimana keadaanmu
ketika kamu
menggoda Yusuf untuk menundukkan dirinya (kepadamu)?"
Mereka menjawab serentak: "Kami tiada mendapati suatu
keburukan padanya (Yusuf)".
Tiba-tiba, tanpa diminta oleh Raja, isteri al-Aziz
berbicara. Ia merasa telah tiba saatnya untuk berbicara
terus terang perihal itu, agar
hilang semua beban dosa kerana tindakan aniayanya
terhadap Yusuf. Di hadapan Raja, wanita-wanita kota,
dan seluruh yang hadir di
situ, ia menerangkan: "Sekarang jelaslah kebenaran itu.
Akulah yang menggodanya untuk menundukkan dirinya
(kepadaku), dan
sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang benar".
(Yusuf berkata), "Yang demikian itu agar dia (al-Aziz)
mengetahui bahawa sesungguhnya aku tidak berkhianat
kepadanya di
belakangnya, dan bahawasanya Allah tidak merelai
tipudaya orang-orang yang berkhianat. Dan aku tidak
membebaskan diriku (dari
kesalahan), kerana sesungguhnya nafsu itu selalu
menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi
rahmat oleh Tuhanku.
Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun, Maha Penyayang".
Terjadi perbedaan pendapat tentang kehidupan perempuan
itu selanjutnya. Sebahagian orang berpendapat bahawa
sejak itu isteri
al-Aziz hidup bersama kesedihan dan putus asa kerana
ingatannya kepada Yusuf. Sebahagian yang lain
berpendapat bahawa isteri
al-Aziz itu akhirnya pindah ke suatu tempat yang jauh,
dan tiada khabar beritanya sama sekali. Yang jelas,
kehidupan wanita itu
menjadi terganggu, kerana cinta kepada Yusuf.
Namun ada yang mengisahkan setelah peristiwa itu
Zulaiha bertaubat kepada Allah SWT. Ketika Yusuf diutus
menjadi Rasul dan
menjadi penguasa menggantikan Al-Aziz, Nabi Yusuf
berjumpa dengan Zulaiha yang ketika itu keadaannya
sudah tua. Akhirnya Allah
menjadikan Zulaiha muda remaja dan berkahwin dengan
Nabi Yusuf. Maka jadilah Zulaiha sebagai seorang wanita
yang solehah yang
sentiasa beramal kepada Allah SWT.
(Kisah Zulaiha ini dapat di baca dalam Al-Quran surah
Yusuf ayat 21-53)
dipetik dari laman web Darul Nu'man
Wasiat Imam Syafie
SEBELUM Imam Syafie pulang ke rahmatullah, beliau sempat berwasiat kepada para muridnya dan umat islam seluruhnya.
Berikut ialah kandungan wasiat tersebut:
"Barangsiapa yang ingin meninggalkan dunia dalam keadaan selamat maka hendaklah ia mengamalkan sepuluh perkara."
PERTAMA: HAK KEPADA DIRI.
Iaitu: Mengurangkan tidur, mengurangkan makan, mengurangkan percakapan dan berpada-pada dengan rezeki yang ada.
KEDUA: HAK KEPADA MALAIKAT MAUT
Iaitu: Mengqadhakan kewajipan-kewajipan yang tertinggal, mendapatkan kemaafan dari orang yang kita zalimi, membuat persediaan untuk mati dan merasa cinta kepada Allah.
KETIGA : HAK KEPADA KUBUR
Iaitu : Membuang tabiat suka menabur fitnah, membuang tabiat kencing merata-rata, memperbanyakkan solat Tahajjud dan membantu orang yang dizalimi.
KEEMPAT: HAK KEPADA MUNKAR DAN NAKIR
Iaitu : Tidak berdusta, berkata benar, meninggalkan maksiat dan nasihat menasihati.
KELIMA : HAK KEPADA MIZAN (NERACA TIMBANGAN AMAL PADA HARI KIAMAT)
Iaitu : Menahan kemarahan, banyak berzikir, mengikhlaskan amalan dan sanggup menanggung kesusahan.
KEENAM : HAK KEPADA SIRAT (TITIAN YANG MERENTANGI NERAKA PADA HARI AKHIRAT)
Iaitu : Membuang tabiat suka mengumpat, bersikap warak, suka membantu orang beriman dan suka berjemaah.
KETUJUH : HAK KEPADA MALIK (PENJAGA NERAKA)
Iaitu : Menangis lantaran takutkan Allah SWT, berbuat baik kepada ibu bapa, bersedekah secara terang-terangan serta sembunyi dan memperelok akhlak.
KELAPAN : HAK KEPADA RIDHWAN (MALAIKAT PENJAGA SYURGA)
Iaitu : Berasa redha dengan Qadha' Allah, bersabar menerima bala, bersyukur ke atas ni'mat Allah dan bertaubat dari melakukan maksiat.
KESEMBILAN : HAK KEPADA NABI SAW
Iaitu : Berselawat ke atas baginda, berpegang dengan syariat, bergantung kepada as-Sunnah (Hadith), menyayangi para sahabat, dan bersaing dalam mencari keredhaan Allah.
KESEPULUH : HAK KEPADA ALLAH SWT
Iaitu : Mengajak manusia ke arah kebaikan, mencegah manusia dari kemungkaran, menyukai ketaatan dan membenci kemaksiatan.
Moga ada manfaat
Berikut ialah kandungan wasiat tersebut:
"Barangsiapa yang ingin meninggalkan dunia dalam keadaan selamat maka hendaklah ia mengamalkan sepuluh perkara."
PERTAMA: HAK KEPADA DIRI.
Iaitu: Mengurangkan tidur, mengurangkan makan, mengurangkan percakapan dan berpada-pada dengan rezeki yang ada.
KEDUA: HAK KEPADA MALAIKAT MAUT
Iaitu: Mengqadhakan kewajipan-kewajipan yang tertinggal, mendapatkan kemaafan dari orang yang kita zalimi, membuat persediaan untuk mati dan merasa cinta kepada Allah.
KETIGA : HAK KEPADA KUBUR
Iaitu : Membuang tabiat suka menabur fitnah, membuang tabiat kencing merata-rata, memperbanyakkan solat Tahajjud dan membantu orang yang dizalimi.
KEEMPAT: HAK KEPADA MUNKAR DAN NAKIR
Iaitu : Tidak berdusta, berkata benar, meninggalkan maksiat dan nasihat menasihati.
KELIMA : HAK KEPADA MIZAN (NERACA TIMBANGAN AMAL PADA HARI KIAMAT)
Iaitu : Menahan kemarahan, banyak berzikir, mengikhlaskan amalan dan sanggup menanggung kesusahan.
KEENAM : HAK KEPADA SIRAT (TITIAN YANG MERENTANGI NERAKA PADA HARI AKHIRAT)
Iaitu : Membuang tabiat suka mengumpat, bersikap warak, suka membantu orang beriman dan suka berjemaah.
KETUJUH : HAK KEPADA MALIK (PENJAGA NERAKA)
Iaitu : Menangis lantaran takutkan Allah SWT, berbuat baik kepada ibu bapa, bersedekah secara terang-terangan serta sembunyi dan memperelok akhlak.
KELAPAN : HAK KEPADA RIDHWAN (MALAIKAT PENJAGA SYURGA)
Iaitu : Berasa redha dengan Qadha' Allah, bersabar menerima bala, bersyukur ke atas ni'mat Allah dan bertaubat dari melakukan maksiat.
KESEMBILAN : HAK KEPADA NABI SAW
Iaitu : Berselawat ke atas baginda, berpegang dengan syariat, bergantung kepada as-Sunnah (Hadith), menyayangi para sahabat, dan bersaing dalam mencari keredhaan Allah.
KESEPULUH : HAK KEPADA ALLAH SWT
Iaitu : Mengajak manusia ke arah kebaikan, mencegah manusia dari kemungkaran, menyukai ketaatan dan membenci kemaksiatan.
Moga ada manfaat
Imam Syafie
Imam Syafie bernama Muhammad bin Idris. Salasilah keturunan beliau adalah Muhammad bin Idris bin Abbas bin Usman bin Syafie bin Saib bin Abdul Yazid bin Hasyim bin Abdul Mutalib bin Abdul Manaf. Keturunan beliau bertemu dengan keturunan Nabi Muhammad SAW pada
datuk Nabi Muhammad yang ketiga iaitu Abdul Manaf.
Beliau dilahirkan di Ghuzah nama sebuah kampung yang termasuk daerah Palestin, pada bulan Rejab 150 H atau 767 Masehi. Tempat asal ayah dan bonda beliau ialah di Kota Makkah. Imam Syafie lahir di Palestin kerana ketika itu bondanya pergi ke daerah itu demi keperluan
penting. Namun di dalam perjalanan menuju Palestin tersebut ayahnya meninggal dunia, sementara Imam Syafie masih dalam kandungan ibunya. Setelah berumur dua tahun baru Imam Syafie dan ibunya kembali ke Kota Makkah.
Ketika berumur 9 tahun beliau telah hafal Al-Quran 30 juz. Umur 19 tahun telah mengerti isi kitab Al-Muwatha’, karangan Imam Malik, tidak lama kemudian Al-Muwatha’ telah dihafalnya. Kitab Al-Muwatha’ tersebut berisi hadith-hadith Rasulullah SAW, yang dihimpun oleh Imam Malik. Kerana kecerdasannya pada umur 15 tahun beliau telah diizinkan memberi fatwa di hadapan masyarakat dan menjawat sebagai guru besar ilmu hadith serta menjadi mufti dalam Masjidil Haram di Makkah.
Ketika berumur 20 tahun beliau pergi belajar ke tempat Imam Malik di Madinah, setelah itu beliau ke Irak, Parsi dan akhirnya kembali ke Madinah. Dalam usia 29 tahun beliau pergi ke Yaman untuk menuntut ilmu pengetahuan.
Tentang ketaatan beliau dalam beribadah kepada Allah diceritakan bahawa setiap malam beliau membagi malam itu kepada tiga bahagian. Sepertiga malam beliau gunakan kewajipan sebagai manusia yang mempunyai keluarga, sepertiga malam untuk solat dan zikir dan sepertiga lagi untuk tidur.
Ketika Imam Syafie di Yaman, beliau diangkat menjadi setiausaha dan penulis istimewa Gabenor di Yaman, sekaligus menjadi guru besar di sana. Kerana beliau termasuk orang pendatang, secara tiba-tiba memangku jawatan yang tinggi, maka ramai orang yang memfitnah
beliau. Ahli sejarah telah menceritakan bahawa waktu sultan Harun Ar-Rasyid sedang marah terhadap kaum Syiah, sebab golongan tersebut berusaha untuk meruntuhkan kekuasaan Abbasiyah, mereka berhasrat mendirikan sebuah kerajaan Alawiyah iaitu keturunan
Saidina Ali bin Abi Talib. Kerana itu di mana kaum Syiah berada mereka diburu dan dibunuh.
Suatu kali datang surat baginda Sultan dari Baghdad. Dalam surat yang ditujukan kepada Wali negeri itu diberitahukan supaya semua kaum Syiah ditangkap. Untuk pertama kali yang paling penting adalah para pemimpinnya, jika pekerjaan penangkapan telah selesai semua mereka akan dikirimkan ke Baghdad. Semuanya harus dibelenggu dan dirantai. Imam Syafie
juga ditangkap, sebab di dalam surat tersebut bahawa Imam Syafie termasuk dalam senarai para pemimpin Syiah.
Ketika peristiwa itu terjadi pada bulan Ramadhan, Imam Syafie dibawa ke Baghdad dengan dirantai kedua belah tangannya. Dalam keadaan dibelenggu itu para tahanan disuruh berjalan kaki mulai dari Arab Selatan (Yaman) sampai ke Arab Utara (Baghdad), yang menempuh
perjalanan selama dua bulan. Sampai di Baghdad belenggu belum dibuka, yang menyebabkan darah-darah hitam melekat pada rantai-rantai yang mengikat tangan mereka.
Pada suatu malam pengadilan pun dimulai. Para tahanan satu persatu masuk ke dalam bilik pemeriksaan. Setelah mereka ditanya dengan beberapa kalimat, mereka dibunuh dengan memenggal leher tahanan tersebut. Supaya darah yang keluar dari leher yang dipotong itu tidak
berserak ia dialas dengan kulit binatang yang diberi nama dengan natha’. Imam Syafie dalam keadaan tenang menunggu giliran, dengan memohon keadilan kepada Allah SWT. Kemudian
beliau dipanggil ke hadapan baginda Sultan. Imam Syafie menyerahkan segalanya hanya kepada Allah SWT. Dengan keadaan merangkak kerana kedua belah kaki beliau diikat dengan rantai, Imam Syafie mengadap Sultan. Semua para pembesar memperhatikan beliau.
"Assalamualaika, ya Amirul Mukminin wabarakatuh." Demikian ucapan salam beliau kepada baginda dengan tidak disempurnakan iaitu "Warahmatullah." "Wa alaikassalam warahmatullah wabarakatuh." Jawab baginda. Kemudian baginda bertanya: "Mengapa engkau mengucap salam dengan ucapan yang tidak diperintahkan oleh sunnah, dan mengapa engkau berani berkata-kata
dalam majlis ini sebelum mendapat izin dari saya?" Imam Syafie menjawab: "Tidak saya ucapkan kata "Warahmatullah" kerana rahmat Allah itu terletak dalam hati baginda sendiri." Mendengar kata-kata itu hati baginda jadi lembut. Kemudian Imam Syafie membaca surah An-Nur ayat 55 yang bermaksud: "Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang soleh bahawa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sesungguhnya Dia akan meneguhkan bagi mereka agama
yang telah diredhaiNya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa."
Setelah membaca ayat di atas kemudian Imam Syafie berkata: "Demikianlah Allah telah menepati janjiNya, kerana sekarang baginda telah menjadi khalifah, jawapan salam baginda tadi membuat hati saya menjadi aman." Hati baginda menjadi bertambah lembut. Baginda Harun ar Rashid bertanya kembali: "Kenapa engkau menyebarkan faham Syiah, dan apa alasanmu untuk
menolak tuduhan atas dirimu." "Saya tidak dapat menjawab pertanyaan baginda dengan baik bila saya masih dirantai begini, jika belenggu ini dibuka Insya-Allah saya akan menjawab dengan
sempurna. Lalu baginda memerintahkan kepada pengawal untuk membukakan belenggu yang mengikat lmam Syafie itu. Setelah rantai yang membelenggu kedua kaki dan tangannya itu dibuka, maka Imam Syafie duduk dengan baik kemudian membaca surah Hujarat ayat 6: "Hai
orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasiq yang membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu."
"Ya Amirul Mukminin, sesungguhnya berita yang sampai kepada baginda itu adalah dusta belaka. Sesungguhnya saya ini menjaga kehormatan Islam. Dan bagindalah yang berhak memegang adab kitab Allah kerana baginda adalah putera bapa saudara Rasulullah SAW iaitu Abbas. Kita sama-sama menghormati keluarga Rasulullah. Maka kalau saya dituduh Syiah kerana saya sayang dan cinta kepada Rasulullah dan keluarganya, maka demi Allah, biarlah
umat Islam sedunia ini menyaksikan bahawa saya adalah Syiah. Dan tuan-tuan sendiri tentunya sayang dan cinta kepada keluarga Rasulullah." Demikian jawab Imam Syafie.
Baginda Harun ar Rasyid pun menekurkan kepalanya kemudian ia berkata kepada Imam Syafie: "Mulai hari ini bergembiralah engkau agar lenyaplah perselisihan antara kami dengan kamu, kerana kami harus memelihara dan menghormati pengetahuanmu wahai Imam Syafie."
Demikianlah kehidupan Imam Syafie sebagai ulama besar, yang tidak lepas dari berbagai cubaan serta seksaan dari pihak yang tak mengerti akan hakikat kebenaran yang sesungguhnya. Hanya ketabahan dan keimanan serta pengetahuanlah yang dapat menghadapi setiap cubaan itu
sebagai suatu ujian dari Allah SWT yang harus kita hadapi.
dipetik dari laman web darul nu'man
datuk Nabi Muhammad yang ketiga iaitu Abdul Manaf.
Beliau dilahirkan di Ghuzah nama sebuah kampung yang termasuk daerah Palestin, pada bulan Rejab 150 H atau 767 Masehi. Tempat asal ayah dan bonda beliau ialah di Kota Makkah. Imam Syafie lahir di Palestin kerana ketika itu bondanya pergi ke daerah itu demi keperluan
penting. Namun di dalam perjalanan menuju Palestin tersebut ayahnya meninggal dunia, sementara Imam Syafie masih dalam kandungan ibunya. Setelah berumur dua tahun baru Imam Syafie dan ibunya kembali ke Kota Makkah.
Ketika berumur 9 tahun beliau telah hafal Al-Quran 30 juz. Umur 19 tahun telah mengerti isi kitab Al-Muwatha’, karangan Imam Malik, tidak lama kemudian Al-Muwatha’ telah dihafalnya. Kitab Al-Muwatha’ tersebut berisi hadith-hadith Rasulullah SAW, yang dihimpun oleh Imam Malik. Kerana kecerdasannya pada umur 15 tahun beliau telah diizinkan memberi fatwa di hadapan masyarakat dan menjawat sebagai guru besar ilmu hadith serta menjadi mufti dalam Masjidil Haram di Makkah.
Ketika berumur 20 tahun beliau pergi belajar ke tempat Imam Malik di Madinah, setelah itu beliau ke Irak, Parsi dan akhirnya kembali ke Madinah. Dalam usia 29 tahun beliau pergi ke Yaman untuk menuntut ilmu pengetahuan.
Tentang ketaatan beliau dalam beribadah kepada Allah diceritakan bahawa setiap malam beliau membagi malam itu kepada tiga bahagian. Sepertiga malam beliau gunakan kewajipan sebagai manusia yang mempunyai keluarga, sepertiga malam untuk solat dan zikir dan sepertiga lagi untuk tidur.
Ketika Imam Syafie di Yaman, beliau diangkat menjadi setiausaha dan penulis istimewa Gabenor di Yaman, sekaligus menjadi guru besar di sana. Kerana beliau termasuk orang pendatang, secara tiba-tiba memangku jawatan yang tinggi, maka ramai orang yang memfitnah
beliau. Ahli sejarah telah menceritakan bahawa waktu sultan Harun Ar-Rasyid sedang marah terhadap kaum Syiah, sebab golongan tersebut berusaha untuk meruntuhkan kekuasaan Abbasiyah, mereka berhasrat mendirikan sebuah kerajaan Alawiyah iaitu keturunan
Saidina Ali bin Abi Talib. Kerana itu di mana kaum Syiah berada mereka diburu dan dibunuh.
Suatu kali datang surat baginda Sultan dari Baghdad. Dalam surat yang ditujukan kepada Wali negeri itu diberitahukan supaya semua kaum Syiah ditangkap. Untuk pertama kali yang paling penting adalah para pemimpinnya, jika pekerjaan penangkapan telah selesai semua mereka akan dikirimkan ke Baghdad. Semuanya harus dibelenggu dan dirantai. Imam Syafie
juga ditangkap, sebab di dalam surat tersebut bahawa Imam Syafie termasuk dalam senarai para pemimpin Syiah.
Ketika peristiwa itu terjadi pada bulan Ramadhan, Imam Syafie dibawa ke Baghdad dengan dirantai kedua belah tangannya. Dalam keadaan dibelenggu itu para tahanan disuruh berjalan kaki mulai dari Arab Selatan (Yaman) sampai ke Arab Utara (Baghdad), yang menempuh
perjalanan selama dua bulan. Sampai di Baghdad belenggu belum dibuka, yang menyebabkan darah-darah hitam melekat pada rantai-rantai yang mengikat tangan mereka.
Pada suatu malam pengadilan pun dimulai. Para tahanan satu persatu masuk ke dalam bilik pemeriksaan. Setelah mereka ditanya dengan beberapa kalimat, mereka dibunuh dengan memenggal leher tahanan tersebut. Supaya darah yang keluar dari leher yang dipotong itu tidak
berserak ia dialas dengan kulit binatang yang diberi nama dengan natha’. Imam Syafie dalam keadaan tenang menunggu giliran, dengan memohon keadilan kepada Allah SWT. Kemudian
beliau dipanggil ke hadapan baginda Sultan. Imam Syafie menyerahkan segalanya hanya kepada Allah SWT. Dengan keadaan merangkak kerana kedua belah kaki beliau diikat dengan rantai, Imam Syafie mengadap Sultan. Semua para pembesar memperhatikan beliau.
"Assalamualaika, ya Amirul Mukminin wabarakatuh." Demikian ucapan salam beliau kepada baginda dengan tidak disempurnakan iaitu "Warahmatullah." "Wa alaikassalam warahmatullah wabarakatuh." Jawab baginda. Kemudian baginda bertanya: "Mengapa engkau mengucap salam dengan ucapan yang tidak diperintahkan oleh sunnah, dan mengapa engkau berani berkata-kata
dalam majlis ini sebelum mendapat izin dari saya?" Imam Syafie menjawab: "Tidak saya ucapkan kata "Warahmatullah" kerana rahmat Allah itu terletak dalam hati baginda sendiri." Mendengar kata-kata itu hati baginda jadi lembut. Kemudian Imam Syafie membaca surah An-Nur ayat 55 yang bermaksud: "Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang soleh bahawa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sesungguhnya Dia akan meneguhkan bagi mereka agama
yang telah diredhaiNya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa."
Setelah membaca ayat di atas kemudian Imam Syafie berkata: "Demikianlah Allah telah menepati janjiNya, kerana sekarang baginda telah menjadi khalifah, jawapan salam baginda tadi membuat hati saya menjadi aman." Hati baginda menjadi bertambah lembut. Baginda Harun ar Rashid bertanya kembali: "Kenapa engkau menyebarkan faham Syiah, dan apa alasanmu untuk
menolak tuduhan atas dirimu." "Saya tidak dapat menjawab pertanyaan baginda dengan baik bila saya masih dirantai begini, jika belenggu ini dibuka Insya-Allah saya akan menjawab dengan
sempurna. Lalu baginda memerintahkan kepada pengawal untuk membukakan belenggu yang mengikat lmam Syafie itu. Setelah rantai yang membelenggu kedua kaki dan tangannya itu dibuka, maka Imam Syafie duduk dengan baik kemudian membaca surah Hujarat ayat 6: "Hai
orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasiq yang membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu."
"Ya Amirul Mukminin, sesungguhnya berita yang sampai kepada baginda itu adalah dusta belaka. Sesungguhnya saya ini menjaga kehormatan Islam. Dan bagindalah yang berhak memegang adab kitab Allah kerana baginda adalah putera bapa saudara Rasulullah SAW iaitu Abbas. Kita sama-sama menghormati keluarga Rasulullah. Maka kalau saya dituduh Syiah kerana saya sayang dan cinta kepada Rasulullah dan keluarganya, maka demi Allah, biarlah
umat Islam sedunia ini menyaksikan bahawa saya adalah Syiah. Dan tuan-tuan sendiri tentunya sayang dan cinta kepada keluarga Rasulullah." Demikian jawab Imam Syafie.
Baginda Harun ar Rasyid pun menekurkan kepalanya kemudian ia berkata kepada Imam Syafie: "Mulai hari ini bergembiralah engkau agar lenyaplah perselisihan antara kami dengan kamu, kerana kami harus memelihara dan menghormati pengetahuanmu wahai Imam Syafie."
Demikianlah kehidupan Imam Syafie sebagai ulama besar, yang tidak lepas dari berbagai cubaan serta seksaan dari pihak yang tak mengerti akan hakikat kebenaran yang sesungguhnya. Hanya ketabahan dan keimanan serta pengetahuanlah yang dapat menghadapi setiap cubaan itu
sebagai suatu ujian dari Allah SWT yang harus kita hadapi.
dipetik dari laman web darul nu'man
Wasiat RASULALLAH S.A.W
Oleh Syed Hasan Alatas
Menjelang akhir Hayat Rasulallah s.a.w. yaitu pada tahun 10 Hijriah, Nabi Muhammad s.a.w. bersama seluruh Ummat Islam yang datang dari segenap penjuru, telah enunaikan Haji/'Umrah yang terakhir bagi Nabi s.a.w.yang disebutkan juga dengan Haji Wada' (Haji Perpisahan) karena setelah delapan puluh dua hari sesudah itu Rasulallah s.a.w. wafat meninggalkan dunia yang fana ini, kembali ke Ramatullah.
Nabi s.a.w. bersama Ummat Islam yang sangat ramai ketika itu (ratusan ribu) telah menyampaikan banyak pesanan kepada seluruh Ummat Islam untuk dilaksanakan.Khutbah Nabi s.a.w.di Padang Arafah (suatu kawasan padang yang luas, terletak di kaki Jabal Rahmah (bukit Rahmah), kira-kira 22 km sebelah tenggara kota Makkah). Wukuf di 'Arafah disebut juga dengan Hari 'Arafah (hari Perkenalan/Pertemuan).
Dalam Khotbah Nabi s.a.w. yang ditujukan kepada seluruh Ummat Islam ketika itu dan juga supaya disampaikan kepada seluruh Ummat Islam sekarang ini dan kepada seluruh Ummat Islam hingga qiamat (ketika alam dunia ini telah dihancur leburkan). Bumi dengan segala isinya telah hancur lebur. Gempa yang dahsyat telah membuat segala apa yang ada dibumi ini menjadi puing ataupun runtuhan. Manusia ketika itu tidak tentu arah, masing-masing coba menyelamatkan diri mereka, tetapi kemana-manapun serupa keadaannya.
Masa itu adalah masa akhirnya bagi segala kehidupan dan kesenangan dunia, diganti dengan Kehidupan Akhirat, kehidupan yang abadi. Hari kiamat merupakan Hari Kebangkitan kembali, hanya Hukum Allah s.w.t. sahaja yang berlaku. Manusia terpaksa tunduk dan mempertanggung jawabkan akan segala apa yang telah mereka lakukan selama mereka hidup didunia. Oleh karena itu sebelum tibanya kiamat, masih ada kesempatan bagi seluruh Ummat Islam, memperhatikan dengan serius Khotbah Nabi s.a.w. ini untuk dilaksanakan, supaya kita terselamat didunia dan akan bahagia diakhirat Insya-Allah.
Dalam Khotbah Nabi yang mulia ini, Rasulallah s.a.w, berwasiat kepada seluruh Ummatnya ,antara lain Nabi bersabda: "Segala puji bagi Allah yang menguasai seluruh alam. Kami memujiNya. Kami mohon PertolonganNya, kami mohon keampunanNya akan segala dosa-dosa kami dan melahirkan taubat kami di hadapanNya. Kami mohon perlidungan daripada keburukan hati kami dan segala kejahatan yang telah kami lakukan. Sesiapa yang telah dipimpin Allah ke jalan yang lurus, maka tiada seorangpun boleh menyesatkannya, dan barangsiapa yang tidak diberi petunjuk oleh Allah maka tiada siapa yang dapat memandunya ke jalan yang benar".
Nabi s.a.w.menyampaikan wasiatnya ini kepada seluruh Ummat Islam dimanapun mereka berada ketika itu hingga berakhirnya alam yang fana ini.
Nabi bersabda lagi yang maksudnya: "Aku isytiharkan kebenaran ini bahwa tidak ada Tuhan lain, melainkan Allah dan aku isytiharkan kebenaran ini, bahwa Muhammad itu hambaNya dan RasulNya. Wahai hamba-hamba Allah, aku nasihatkan kamu supaya menyembah Allah. Aku mulakan kata-kata yang suci ini.
Selepas itu aku nyatakan kepadamu, wahai manusia! Dengarkanlah perkataanku dengan sebaik-baiknya ketika aku berucap, karena aku merasa aku tidak lagi berpeluang menemui kamu disini selepas tahun ini. Tahukah kamu semua hari apakah ini? Inilah hari Nahar, hari korban yang suci. Tahukah kamu semua bulan apakah ini? Inilah bulan suci. Tahukah kamu semua tempat apakah ini? Inilah tempat yang suci. Oleh karena itu aku sampaikan kepada kamu semua bahwa, darah dan harta kamu adalah diharamkan bagi seseorang terhadap yang lainnya".
Nabi s.a.w. melanjutkan khotbahnya: "Semuanya mesti kamu sucikan sebagaimana
sucinya hari ini, sucinya bulan ini, sucinya tempat ini."
Lalu Nabi s.a.w.melanjutkan ucapan beliau: "Hendaklah berita ini kamu sampaikan kepada orang-orang yang tidak hadhir ditempat ini." (oleh karena itu menjadi kewajiban pula bagi seluruh Ummat Islam yang ada sekarang ini dan selepas ini, supaya menyampaikan wasiat yang sangat penting ini kepada seluruh manusia, dengan segala daya yang ada pada kita). Sambil itu Nabi s.a.w. bertanya kepada Ummat yang hadir,
"Adakah aku telah menyampaikan kepadamu semua? Ummat yang hadir menjawab dengan sepontan: "Memang benar, engkau telah menyampaikannya". Lalu Nabi s.a.w. memohon kesaksian dari Allah s.w.t: "Ya Allah! Saksikanlah." Nabi s.a.w.melanjutkan: "Wahai manusia! Sesungguhnya Tuhan kamu adalah satu, dan sesungguhnya kamu berasal dari yang satu. Semua kamu berasal dari Adam dan Adam berasal dari tanah. Wahai manusia dengarkanlah baik-baik apa yang telah ku sampaikan kepadamu, semoga kamu akan bahagia untuk selama-lamanya dalam hidupmu. Wahai manusia,kamu hendaklah mengerti, bahwa orang-orang yang beriman itu adalah bersaudara, maka adakanlah perbaikan diantara sesama saudara."
Nabi s.a.w.melanjutkan khotbahnya dengan sabdanya: "Bukankah aku telah meninggalkan kepadamu panduan yang benar, dan bila kamu berpegang teguh dengannya, kamu tidak akan sesat selama-lamanya, yaitu al-Quran dan Sunnahku".
Rasulallah s.a.w. melanjutkan Khotbahnya: "Waspadalah atas segala apa yang telah ku sampaikan,Ya Allah Engkaulah yang akan menjadi saksi atas kami!"
Nabi s.a.w.meneruskan sabdanya: "Barangsiapa memegang amanah, hendaklah dikembalikannya kepada pemiliknya! Jumlah faedah (riba) yang diambil dizaman
jahiliyah hendaklah dibayar pada hari ini! Oleh karena itu, pertama sekali aku membayar tuntutuan bunga (riba) yang telah dibuat oleh bapak saudaraku (pamanku), Abbas bin Abdul Muttalib. Semua gelaran dan jabatan-jabatan di masa jahiliyah dihapuskan, kecuali Sadana (jabatan yang menguruskan ka'bah dan saqaya (jabatan yang membekalkan air kepada jemaah haji.)!"
"Pembunuhan yang dilakukan dengan sengaja, mestilah dibalas bunuh. Pembunuhan yang terjadi disebabkan tidak sengaja (bukan niat untuk membunuh) seperti menggunakan kayu atau batu, dendanya adalah seratus ekor unta. Barangsiapa yang menambahnya, maka itu dianggap sebagai amalan di zaman jahiliyah".
"Wahai manusia! Selepas tertegaknya sistem yang hak (benar), maka Syaitan akan hilang harapannya untuk disembah diatas muka bumi ini. Tetapi Syaitan akan bergembira sekiranya ia dipatuhi dalam dosa-dosa yang lain yang dianggap remeh !"
Rasulallah s.a.w.kemudian bertanya kepada jamaah yang hadir: "Adakah aku telah menyampaikan wasiatku ini kepadu kamu semua?"
Jamaah menjawab: "Ya, Rasulallah engkau telah menyampaikan pesanmu".
Nabi melanjutkan wasiatnya dengan memohon penyaksian dari Allah s.w.t.: "Ya Allah! Engkaulah yang menjadi saksi diantara kami !"
Rasulallah s.a.w. meneruskan khotbah beliau: "Wahai manusia! Wanita-wanita kamu, mempunyai beberapa hak keatas diri kamu, dan kamu juga mempunya beberapa hak terhadap mereka. Adalah menjadi kewajiban terhadap mereka supaya tidak mengizinkan sesiapapun masuk ke dalam kamar tidur mereka kecuali kamu dan jangan membenarkan orang yang tidak kamu sukai, masuk kedalam rumah kamu. Mereka jangan melakukan zina. Jika mereka melakukannya, maka Allah membenarkan kamu memisahkan diri dari mereka. Keluarkan mereka dari kamar tidur kamu, dan kamu boleh memukul tubuh mereka dengan syarat tidak meninggalkan bekas keatasnya".
"Jika mereka berhenti dan mematuhi kamu, maka kamu bertanggung jawab untuk menyara hidup mereka. Semestinya wanita berada di bawah perintah kamu dan tidak boleh bertindak sesuka hati mereka. Kamu telah mengambil mereka menjadi pasangan kamu sebagai amanah dari Allah s.w.t. serta menggunakan tubuh mereka dengan izin Allah. Oleh karena itu takutlah kepada Allah dalam hal wanita, dan asuhlah mereka dengan cara yang betul!"
"Wahai manusia! Ingatlah, aku telah menyampaikan wasiatku ini kepadamu.Ya Allah, Engkaulah yang menjadi saksi diatas kami".
Nabi s.a.w.melanjutkan khotbah beliau:"Wahai manusia, kamu hendaklah mengerti, bahwa orang-orang yang beriman itu adalah bersaudara, maka masing-masing kamu dilarang keras mengambil harta saudaranya kecuali dengan seizin hatinya yang ikhlas.Bukankah aku telah menyampaikannya ? Ya Allah! Saksikanlah!.
Selanjutnya Nabi s.a.w.bersabda:"Janganlah kamu setelah aku meninggal nanti kembali kepada kafir,dimana sebahagian kamu memainkan senjata untuk menebas batang leher kawannya yang lain.Bukankah aku telah meninggalkan untukmu panduan yang benar,bila kamu berpegang teguh dengannya, maka kamu tidak akan sesat,yakni kitab Allah (al-Quran). Wahai manusia !Sesungguhnya Tuhan kamu adalah satu,dan sesungguhnya kamu berasal dari satu bapak.Semua kamu dari Adam dan Adam dari tanah. Sesungguhnya orang yang paling mulia dari antara kamu semua adalah orang yang Taqwa.Tidak sedikitpun ada kelebihan bangsa Arab daripada yang bukan Arab,kecuali dengan taqwa.Wahai manusia bukankah aku telah menyampaikannya? Oh Tuhan saksikanlah !
"Maka hendaklah barang siapa yang hadir ditempat ini berkewajiban untuk menyampaikannya wasiatku ini kepada mereka yang tidak hadir.
" Ketika itu turunlah wahyu yang terakhir kepada Nabi kita s.a.w.yang bermaksud:"Pada hari ini Aku sempurnakan bagimu agamamu.Aku cukupkan ni'matKu untukmu dan Aku rela Islam itu menjadi agamamu." (Q.S.al-Maidah;3)
Jika kita Ummat Islam mematuhi Wasiat Rasulallah s.a.w ini Insya-Allah akan bahagialah hidup kita didunia dan di akhirat, amin.
Oleh karena itu marilah kita usahakan memperbanyak salinan dari Wasiat Nabi s.a.w. dan sampaikanlah dengan seluas mungkin kepada seluruh Ummat Islam. Ini lebih baik kita lakukan daripada membuat surat layang berisi fitnah, adu domba antara satu dengan lainnya,yang boleh membawa bencana kepada seluruh Kesatuan dan Perpaduan Ummat manusia. Akhirnya kita berdo'a kehazirat Ilahi, semoga menyatupadukan seluruh Ummat Islam dimanapun mereka berada dan dengan berkat Perpaduan dan kerjasama ini Ummat Islam akan kembali mencapai Zaman gemilangnya.Insya-Allah, amin.
Ya Allah ampunilah segala kesilapan kami, terimalah amalan kami yang tidak seberapa, tolonglah kami untuk menjadi suatu Ummat yang menjadi contoh teladan yang baik dan berguna kepada Ummat lainnya, Amin ya Rabbal 'Alamin.
Menjelang akhir Hayat Rasulallah s.a.w. yaitu pada tahun 10 Hijriah, Nabi Muhammad s.a.w. bersama seluruh Ummat Islam yang datang dari segenap penjuru, telah enunaikan Haji/'Umrah yang terakhir bagi Nabi s.a.w.yang disebutkan juga dengan Haji Wada' (Haji Perpisahan) karena setelah delapan puluh dua hari sesudah itu Rasulallah s.a.w. wafat meninggalkan dunia yang fana ini, kembali ke Ramatullah.
Nabi s.a.w. bersama Ummat Islam yang sangat ramai ketika itu (ratusan ribu) telah menyampaikan banyak pesanan kepada seluruh Ummat Islam untuk dilaksanakan.Khutbah Nabi s.a.w.di Padang Arafah (suatu kawasan padang yang luas, terletak di kaki Jabal Rahmah (bukit Rahmah), kira-kira 22 km sebelah tenggara kota Makkah). Wukuf di 'Arafah disebut juga dengan Hari 'Arafah (hari Perkenalan/Pertemuan).
Dalam Khotbah Nabi s.a.w. yang ditujukan kepada seluruh Ummat Islam ketika itu dan juga supaya disampaikan kepada seluruh Ummat Islam sekarang ini dan kepada seluruh Ummat Islam hingga qiamat (ketika alam dunia ini telah dihancur leburkan). Bumi dengan segala isinya telah hancur lebur. Gempa yang dahsyat telah membuat segala apa yang ada dibumi ini menjadi puing ataupun runtuhan. Manusia ketika itu tidak tentu arah, masing-masing coba menyelamatkan diri mereka, tetapi kemana-manapun serupa keadaannya.
Masa itu adalah masa akhirnya bagi segala kehidupan dan kesenangan dunia, diganti dengan Kehidupan Akhirat, kehidupan yang abadi. Hari kiamat merupakan Hari Kebangkitan kembali, hanya Hukum Allah s.w.t. sahaja yang berlaku. Manusia terpaksa tunduk dan mempertanggung jawabkan akan segala apa yang telah mereka lakukan selama mereka hidup didunia. Oleh karena itu sebelum tibanya kiamat, masih ada kesempatan bagi seluruh Ummat Islam, memperhatikan dengan serius Khotbah Nabi s.a.w. ini untuk dilaksanakan, supaya kita terselamat didunia dan akan bahagia diakhirat Insya-Allah.
Dalam Khotbah Nabi yang mulia ini, Rasulallah s.a.w, berwasiat kepada seluruh Ummatnya ,antara lain Nabi bersabda: "Segala puji bagi Allah yang menguasai seluruh alam. Kami memujiNya. Kami mohon PertolonganNya, kami mohon keampunanNya akan segala dosa-dosa kami dan melahirkan taubat kami di hadapanNya. Kami mohon perlidungan daripada keburukan hati kami dan segala kejahatan yang telah kami lakukan. Sesiapa yang telah dipimpin Allah ke jalan yang lurus, maka tiada seorangpun boleh menyesatkannya, dan barangsiapa yang tidak diberi petunjuk oleh Allah maka tiada siapa yang dapat memandunya ke jalan yang benar".
Nabi s.a.w.menyampaikan wasiatnya ini kepada seluruh Ummat Islam dimanapun mereka berada ketika itu hingga berakhirnya alam yang fana ini.
Nabi bersabda lagi yang maksudnya: "Aku isytiharkan kebenaran ini bahwa tidak ada Tuhan lain, melainkan Allah dan aku isytiharkan kebenaran ini, bahwa Muhammad itu hambaNya dan RasulNya. Wahai hamba-hamba Allah, aku nasihatkan kamu supaya menyembah Allah. Aku mulakan kata-kata yang suci ini.
Selepas itu aku nyatakan kepadamu, wahai manusia! Dengarkanlah perkataanku dengan sebaik-baiknya ketika aku berucap, karena aku merasa aku tidak lagi berpeluang menemui kamu disini selepas tahun ini. Tahukah kamu semua hari apakah ini? Inilah hari Nahar, hari korban yang suci. Tahukah kamu semua bulan apakah ini? Inilah bulan suci. Tahukah kamu semua tempat apakah ini? Inilah tempat yang suci. Oleh karena itu aku sampaikan kepada kamu semua bahwa, darah dan harta kamu adalah diharamkan bagi seseorang terhadap yang lainnya".
Nabi s.a.w. melanjutkan khotbahnya: "Semuanya mesti kamu sucikan sebagaimana
sucinya hari ini, sucinya bulan ini, sucinya tempat ini."
Lalu Nabi s.a.w.melanjutkan ucapan beliau: "Hendaklah berita ini kamu sampaikan kepada orang-orang yang tidak hadhir ditempat ini." (oleh karena itu menjadi kewajiban pula bagi seluruh Ummat Islam yang ada sekarang ini dan selepas ini, supaya menyampaikan wasiat yang sangat penting ini kepada seluruh manusia, dengan segala daya yang ada pada kita). Sambil itu Nabi s.a.w. bertanya kepada Ummat yang hadir,
"Adakah aku telah menyampaikan kepadamu semua? Ummat yang hadir menjawab dengan sepontan: "Memang benar, engkau telah menyampaikannya". Lalu Nabi s.a.w. memohon kesaksian dari Allah s.w.t: "Ya Allah! Saksikanlah." Nabi s.a.w.melanjutkan: "Wahai manusia! Sesungguhnya Tuhan kamu adalah satu, dan sesungguhnya kamu berasal dari yang satu. Semua kamu berasal dari Adam dan Adam berasal dari tanah. Wahai manusia dengarkanlah baik-baik apa yang telah ku sampaikan kepadamu, semoga kamu akan bahagia untuk selama-lamanya dalam hidupmu. Wahai manusia,kamu hendaklah mengerti, bahwa orang-orang yang beriman itu adalah bersaudara, maka adakanlah perbaikan diantara sesama saudara."
Nabi s.a.w.melanjutkan khotbahnya dengan sabdanya: "Bukankah aku telah meninggalkan kepadamu panduan yang benar, dan bila kamu berpegang teguh dengannya, kamu tidak akan sesat selama-lamanya, yaitu al-Quran dan Sunnahku".
Rasulallah s.a.w. melanjutkan Khotbahnya: "Waspadalah atas segala apa yang telah ku sampaikan,Ya Allah Engkaulah yang akan menjadi saksi atas kami!"
Nabi s.a.w.meneruskan sabdanya: "Barangsiapa memegang amanah, hendaklah dikembalikannya kepada pemiliknya! Jumlah faedah (riba) yang diambil dizaman
jahiliyah hendaklah dibayar pada hari ini! Oleh karena itu, pertama sekali aku membayar tuntutuan bunga (riba) yang telah dibuat oleh bapak saudaraku (pamanku), Abbas bin Abdul Muttalib. Semua gelaran dan jabatan-jabatan di masa jahiliyah dihapuskan, kecuali Sadana (jabatan yang menguruskan ka'bah dan saqaya (jabatan yang membekalkan air kepada jemaah haji.)!"
"Pembunuhan yang dilakukan dengan sengaja, mestilah dibalas bunuh. Pembunuhan yang terjadi disebabkan tidak sengaja (bukan niat untuk membunuh) seperti menggunakan kayu atau batu, dendanya adalah seratus ekor unta. Barangsiapa yang menambahnya, maka itu dianggap sebagai amalan di zaman jahiliyah".
"Wahai manusia! Selepas tertegaknya sistem yang hak (benar), maka Syaitan akan hilang harapannya untuk disembah diatas muka bumi ini. Tetapi Syaitan akan bergembira sekiranya ia dipatuhi dalam dosa-dosa yang lain yang dianggap remeh !"
Rasulallah s.a.w.kemudian bertanya kepada jamaah yang hadir: "Adakah aku telah menyampaikan wasiatku ini kepadu kamu semua?"
Jamaah menjawab: "Ya, Rasulallah engkau telah menyampaikan pesanmu".
Nabi melanjutkan wasiatnya dengan memohon penyaksian dari Allah s.w.t.: "Ya Allah! Engkaulah yang menjadi saksi diantara kami !"
Rasulallah s.a.w. meneruskan khotbah beliau: "Wahai manusia! Wanita-wanita kamu, mempunyai beberapa hak keatas diri kamu, dan kamu juga mempunya beberapa hak terhadap mereka. Adalah menjadi kewajiban terhadap mereka supaya tidak mengizinkan sesiapapun masuk ke dalam kamar tidur mereka kecuali kamu dan jangan membenarkan orang yang tidak kamu sukai, masuk kedalam rumah kamu. Mereka jangan melakukan zina. Jika mereka melakukannya, maka Allah membenarkan kamu memisahkan diri dari mereka. Keluarkan mereka dari kamar tidur kamu, dan kamu boleh memukul tubuh mereka dengan syarat tidak meninggalkan bekas keatasnya".
"Jika mereka berhenti dan mematuhi kamu, maka kamu bertanggung jawab untuk menyara hidup mereka. Semestinya wanita berada di bawah perintah kamu dan tidak boleh bertindak sesuka hati mereka. Kamu telah mengambil mereka menjadi pasangan kamu sebagai amanah dari Allah s.w.t. serta menggunakan tubuh mereka dengan izin Allah. Oleh karena itu takutlah kepada Allah dalam hal wanita, dan asuhlah mereka dengan cara yang betul!"
"Wahai manusia! Ingatlah, aku telah menyampaikan wasiatku ini kepadamu.Ya Allah, Engkaulah yang menjadi saksi diatas kami".
Nabi s.a.w.melanjutkan khotbah beliau:"Wahai manusia, kamu hendaklah mengerti, bahwa orang-orang yang beriman itu adalah bersaudara, maka masing-masing kamu dilarang keras mengambil harta saudaranya kecuali dengan seizin hatinya yang ikhlas.Bukankah aku telah menyampaikannya ? Ya Allah! Saksikanlah!.
Selanjutnya Nabi s.a.w.bersabda:"Janganlah kamu setelah aku meninggal nanti kembali kepada kafir,dimana sebahagian kamu memainkan senjata untuk menebas batang leher kawannya yang lain.Bukankah aku telah meninggalkan untukmu panduan yang benar,bila kamu berpegang teguh dengannya, maka kamu tidak akan sesat,yakni kitab Allah (al-Quran). Wahai manusia !Sesungguhnya Tuhan kamu adalah satu,dan sesungguhnya kamu berasal dari satu bapak.Semua kamu dari Adam dan Adam dari tanah. Sesungguhnya orang yang paling mulia dari antara kamu semua adalah orang yang Taqwa.Tidak sedikitpun ada kelebihan bangsa Arab daripada yang bukan Arab,kecuali dengan taqwa.Wahai manusia bukankah aku telah menyampaikannya? Oh Tuhan saksikanlah !
"Maka hendaklah barang siapa yang hadir ditempat ini berkewajiban untuk menyampaikannya wasiatku ini kepada mereka yang tidak hadir.
" Ketika itu turunlah wahyu yang terakhir kepada Nabi kita s.a.w.yang bermaksud:"Pada hari ini Aku sempurnakan bagimu agamamu.Aku cukupkan ni'matKu untukmu dan Aku rela Islam itu menjadi agamamu." (Q.S.al-Maidah;3)
Jika kita Ummat Islam mematuhi Wasiat Rasulallah s.a.w ini Insya-Allah akan bahagialah hidup kita didunia dan di akhirat, amin.
Oleh karena itu marilah kita usahakan memperbanyak salinan dari Wasiat Nabi s.a.w. dan sampaikanlah dengan seluas mungkin kepada seluruh Ummat Islam. Ini lebih baik kita lakukan daripada membuat surat layang berisi fitnah, adu domba antara satu dengan lainnya,yang boleh membawa bencana kepada seluruh Kesatuan dan Perpaduan Ummat manusia. Akhirnya kita berdo'a kehazirat Ilahi, semoga menyatupadukan seluruh Ummat Islam dimanapun mereka berada dan dengan berkat Perpaduan dan kerjasama ini Ummat Islam akan kembali mencapai Zaman gemilangnya.Insya-Allah, amin.
Ya Allah ampunilah segala kesilapan kami, terimalah amalan kami yang tidak seberapa, tolonglah kami untuk menjadi suatu Ummat yang menjadi contoh teladan yang baik dan berguna kepada Ummat lainnya, Amin ya Rabbal 'Alamin.
40 nasihat Saiyidina Ali R.A
Berikut adalah 40 nasihat Saiyidina Ali sebagaimana yang terdapat idalam kitab Nahjul Balagh dan Al-Bayan Wattabyeen r.a.
1.Pendapat seorang tua adalah lebih baik daripada tenaga seorang muda.
2.Menyokong kesalahan adalah menindas kebenaran.
3.Kebesaran seseorang itu bergantung dengan qalbunya yang mana adalah sekeping daging.
4.Mereka yang bersifat pertengahan dalam semua hal tidak akan menjadi miskin.
5.Jagailah ibubapa kamu,nescaya anak-anakmu akan menjagai kamu.
6.Bakhil terhadap apa yang ditangan adalah tidak mempunyai kepercayaan terhadap Allah.
7.Kekayaan seorang bakhil akan turun kepada ahli warisnya atau ke angin. Tidak ada yang terpencil dari seorang yang bakhil.
8.Seorang arif adalah lebih baik daripada arif. Seorang jahat adalah lebih jahat daripada kejahatan.
9.Ilmu adalah lebih baik daripada kekayaan kerana kekayaan harus dijagai ,sedangkan ilmu menjaga kamu.
10.Jagalah harta bendamu dengan mengeluarkan zakat dan angkatkan kesusahanmu dengan mendirikan sembahyang.
11. Sifat menahan kemarahan adalah lebih mulia daripada membalas dendam.
12.Mengajar adalah belajar.
13.Berkhairatlah mengikut kemampuanmu dan janganlah kamu jadikan keluargamu hina dan miskin.
14.Insan terbahagi kepada 3 :
1.mereka yang mengenal Allah.
2.mereka yang mencari kebenaran.
3.mereka yang tidak berpengetahuan dan tidak mencari kebenaran.
Golongan yang terakhir inilah yang paling rendah dan tak baik sekali dan mereka akan ikut sebarang ketua dengan buta seperti kambing.
15.Insan tak akan melihat kesalahan seorang yang bersifat tawadhu' dan lemah.
16.Janganlah kamu takut kepada sesiapa melainkan dosamu terhadap Allah.
17.Mereka yang mencari kesilapan dirinya sendiri adalah selamat dari mencari kesilapan orang lain.
18.Harga diri seseorang itu adalah berdasarkan apa yang ia lakukan untuk memperbaiki dirinya.
19.Manusia sebenarnya sedang tidur tetapi akan bangun bila ia mati.
20.Jika kamu mempunyai sepenuh keyakinan akan Al-Haq dan kebenaran, nescaya keyakinanmu tetap tidak akan berubah walaupun terbuka rahsia kebenaran itu.
21.Allah merahmati mereka yang kenal akan dirinya dan tidak melampaui batas.
22.Sifat seseorang tersembunyi disebalik lidahnya.
23.Seorang yang membantu adalah sayapnya seorang yang meminta.
24.Insan tidur di atas kematian anaknya tetapi tidak tidur di atas kehilangan hartanya.
25.Barangsiapa yang mencari apa yang tidak mengenainya nescaya hilang apa yang mengenainya.
26.Mereka yang mendengar orang yang mengumpat terdiri daripada golongan mereka yang mengumpat
27.Kegelisahan adalah lebih sukar dari kesabaran.
28.Seorang yang hamba kepada syahwatnya adalah seorang yang lebih hina daripada seorang hamba kepada hamba.
29.Orang yang dengki marah kepada orang tidak berdosa.
30.Putus harapan adalah satu kebebasan , mengharap (kepada manusia) adalah
suatu kehambaan.
31.Sangkaan seorang yang berakal adalah suatu ramalan.
32.Seorang akan mendapat tauladan di atas apa yang dilihat.
33.Taat kepada perempuan(selain ibu) adalah kejahilan yang paling besar.
34.Kejahatan itu mengumpulkan kecelaan yang memalukan.
35.Jika berharta, berniagalah dengan Allah dengan bersedekah.
36.Janganlah kamu lihat siapa yang berkata tetapi lihat apa yang dikatakannya.
37.Tidak ada percintaan dengan sifat yang berpura2.
38.Tidak ada pakaian yang lebih indah daripada keselamatan.
39.Kebiasaan lisan adalah apa yang telah dibiasakannya.
40.Jika kamu telah menguasai musuhmu, maafkanlah mereka, kerana perbuatan itu adalah syukur kepada kejayaan yang telah kamu perolehi.
1.Pendapat seorang tua adalah lebih baik daripada tenaga seorang muda.
2.Menyokong kesalahan adalah menindas kebenaran.
3.Kebesaran seseorang itu bergantung dengan qalbunya yang mana adalah sekeping daging.
4.Mereka yang bersifat pertengahan dalam semua hal tidak akan menjadi miskin.
5.Jagailah ibubapa kamu,nescaya anak-anakmu akan menjagai kamu.
6.Bakhil terhadap apa yang ditangan adalah tidak mempunyai kepercayaan terhadap Allah.
7.Kekayaan seorang bakhil akan turun kepada ahli warisnya atau ke angin. Tidak ada yang terpencil dari seorang yang bakhil.
8.Seorang arif adalah lebih baik daripada arif. Seorang jahat adalah lebih jahat daripada kejahatan.
9.Ilmu adalah lebih baik daripada kekayaan kerana kekayaan harus dijagai ,sedangkan ilmu menjaga kamu.
10.Jagalah harta bendamu dengan mengeluarkan zakat dan angkatkan kesusahanmu dengan mendirikan sembahyang.
11. Sifat menahan kemarahan adalah lebih mulia daripada membalas dendam.
12.Mengajar adalah belajar.
13.Berkhairatlah mengikut kemampuanmu dan janganlah kamu jadikan keluargamu hina dan miskin.
14.Insan terbahagi kepada 3 :
1.mereka yang mengenal Allah.
2.mereka yang mencari kebenaran.
3.mereka yang tidak berpengetahuan dan tidak mencari kebenaran.
Golongan yang terakhir inilah yang paling rendah dan tak baik sekali dan mereka akan ikut sebarang ketua dengan buta seperti kambing.
15.Insan tak akan melihat kesalahan seorang yang bersifat tawadhu' dan lemah.
16.Janganlah kamu takut kepada sesiapa melainkan dosamu terhadap Allah.
17.Mereka yang mencari kesilapan dirinya sendiri adalah selamat dari mencari kesilapan orang lain.
18.Harga diri seseorang itu adalah berdasarkan apa yang ia lakukan untuk memperbaiki dirinya.
19.Manusia sebenarnya sedang tidur tetapi akan bangun bila ia mati.
20.Jika kamu mempunyai sepenuh keyakinan akan Al-Haq dan kebenaran, nescaya keyakinanmu tetap tidak akan berubah walaupun terbuka rahsia kebenaran itu.
21.Allah merahmati mereka yang kenal akan dirinya dan tidak melampaui batas.
22.Sifat seseorang tersembunyi disebalik lidahnya.
23.Seorang yang membantu adalah sayapnya seorang yang meminta.
24.Insan tidur di atas kematian anaknya tetapi tidak tidur di atas kehilangan hartanya.
25.Barangsiapa yang mencari apa yang tidak mengenainya nescaya hilang apa yang mengenainya.
26.Mereka yang mendengar orang yang mengumpat terdiri daripada golongan mereka yang mengumpat
27.Kegelisahan adalah lebih sukar dari kesabaran.
28.Seorang yang hamba kepada syahwatnya adalah seorang yang lebih hina daripada seorang hamba kepada hamba.
29.Orang yang dengki marah kepada orang tidak berdosa.
30.Putus harapan adalah satu kebebasan , mengharap (kepada manusia) adalah
suatu kehambaan.
31.Sangkaan seorang yang berakal adalah suatu ramalan.
32.Seorang akan mendapat tauladan di atas apa yang dilihat.
33.Taat kepada perempuan(selain ibu) adalah kejahilan yang paling besar.
34.Kejahatan itu mengumpulkan kecelaan yang memalukan.
35.Jika berharta, berniagalah dengan Allah dengan bersedekah.
36.Janganlah kamu lihat siapa yang berkata tetapi lihat apa yang dikatakannya.
37.Tidak ada percintaan dengan sifat yang berpura2.
38.Tidak ada pakaian yang lebih indah daripada keselamatan.
39.Kebiasaan lisan adalah apa yang telah dibiasakannya.
40.Jika kamu telah menguasai musuhmu, maafkanlah mereka, kerana perbuatan itu adalah syukur kepada kejayaan yang telah kamu perolehi.
Pesanan Luqmanul Hakim kepada anaknya
Antara pesanan Luqmanul Hakim kepada anaknya:
1. Apabila engkau sedang solat maka jaga baik-baik fikiran mu.
2. Apabila engkau berada di rumah orang lain, maka pelihara pandangan mu.
3. Apabila engkau berada di tengah-tengah majlis maka jaga lidah mu.
4. Apabila engkau hadir di jamuan makan maka jaga akhlak mu.
5. Ingatlah kepada Allah.
6. Lupakan baik budi mu kepada orang lain.
7. Lupakan segala kesalahan orang lain terhadap diri mu.
8. Ingatlah kepada mati.
1. Apabila engkau sedang solat maka jaga baik-baik fikiran mu.
2. Apabila engkau berada di rumah orang lain, maka pelihara pandangan mu.
3. Apabila engkau berada di tengah-tengah majlis maka jaga lidah mu.
4. Apabila engkau hadir di jamuan makan maka jaga akhlak mu.
5. Ingatlah kepada Allah.
6. Lupakan baik budi mu kepada orang lain.
7. Lupakan segala kesalahan orang lain terhadap diri mu.
8. Ingatlah kepada mati.
Subscribe to:
Posts (Atom)
